Kasadar.com, Banda Aceh |  Hari Ini, 15 tahun lalu menjadi menjadi tonggak sejarah paling memilukan sepanjang sejarah abad ini. Bencana kemanusian, gempa dan tsunami menerjang Aceh, dan beberapa wilayah lain di berbagai negara.

Hanya ucapan Lailahaillallah, Allahuakbar…yang terdengar, dan semuanya menjadi kecil di hadapan-Nya tatkala air laut berwujud gelombang raksasa itu menyapu pesisir Aceh.

Dalam hitungan menit daerah pesisir pantai Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Pidie, dan Aceh Utara luluhlantak rata dengan tanah.

Saat gelombang menggulung-gulung daratan itu datang, ada ratusan ribu orang kehilangan segalanya.Suami kehilangan istri, istri kehilangan suami, atau sebaliknya anak-anaknya yang kehilangan orang tua, sahabat dan sanak saudara.

Semuanya merasa kehilangan, tak ada satu kekuatan pun mampu menghadangnya.

Satu-satunya rumah yang tersisa di Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh setelah tsunami 26 Desember 2004 itu. Jelang dewasa, kawasan ini adalah rumah keduaku. Terlalu banyak kenangan di sini. Tempat belajar, bermain, tertawa, dan …I Love You, Lambung. Foto ini saya rekam, Rabu (14 hari setelah tsunami) Pukul 16:58 Wib, dari depan lorong Merpati itu.

Satu-satunya rumah yang tersisa di Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh setelah tsunami 26 Desember 2004 itu. Jelang dewasa, kawasan ini adalah rumah keduaku. Terlalu banyak kenangan di sini. Tempat belajar, bermain, tertawa, dan …I Love You, Lambung. Foto ini saya rekam, Rabu (14 hari setelah tsunami) Pukul 16:58 Wib, dari depan lorong Merpati itu. (SERAMBINEWS/M ANSHAR)

Hari itu, Aceh berduka, air mata membasahi bumi syuhada.

Anak-anak menjerit kehilangan orang tuanya, mereka menjadi yatim piyatu dalam hitungan menit.

Tidak hanya manusia, alam pun berduka, luluhlantak dalam sekejap, tumbuh-tumbuhan dan pepohonan meranggas.

Menyisakan lumpur hitam bearoma belerang. Kemudian semua  mata tertuju kepada Aceh dengan selaksa duka nestapa yang menimpa penduduknya.

Minggu kelabu itu

Minggu, 26 Desember 2004, tak pernah terbayang akan terjadi prahara, bencana gempa dan tsunami. Tidak ada firasat buruk, dan tidak pula ada tanda-tanda akan mengalami hal yang luar biasa.

Hari itu, para nelayan melaut seperti biasanya, pedagang membuka dagangannya, pengemudi menjalankan roda transportasi, aktivitas pasar tradisional disibukkan oleh transaksi jual beli, lari pagi dan jalan santai berlangsung pulasebagaimana tradisi.

Para pegawai bersama keluarga dan anak-anak memadati pantai-pantai rekreasi.

Bahkan para muda mudi sudah berada di pantai sejak malam minggu dengan bermacam aktivitas yang bernuansa hiburan. Ini merupakan kebiasaan masyarakat kota yang mendiami pesisir Aceh.

Anak-anak yang libur sekolah karena hari Minggu juga  melakukan berbagai kegiatan hiburan dan olahraga, ada yang bermain di rumah, dan ada tidur-tiduran sambil menonton siaran televisi.

Para istri dan ibu-ibu rumah tangga melakukan rutinitasnya di rumah; ada yang mencuci pakaian, ada yang sedang bersantai sambil menonton televisi.

Masyarakat lain sibuk pula dengan berbagai kegiatan dan kesibukan masing-masing seperti hari-hari sebelumnya.

Ketika jarum jam menunjuk angka  07.58 WIB, ketenangan dan rutinitas tadi mulai terusik. Rumah, toko, gedung, pepohonan, dan “lat batat kayee batee” bergoyang keras.

Goyangan itu cukup dahsyat dirasakan oleh seluruh masyarakat di Aceh.

Saat itu, badan manusia limbung, terjerembab ke tanah, dan ada yang harus tengkurap akibat bumi yang bergoyang melebihi.

Sejurus kemudian, banyak bangunan roboh, bahkan ada yang ditelan bumi.

Di beberapa tempat bumi bahkan terbelah, ada yang memancarkan air.

Air mata duka

Pagi itu, masyarakat terpaku pada gempa tektonik yang menggoyang  daratan Provinsi Aceh Darussalam dengan kekuatan 9,4 pada Skala Richter.

Sebagian warga tampak menyelamatkan barang-barang dan harta benda lainnya dari goyangan gempa.

Suara meringis dan tangis terdengar di beberapa tempat.

Begitu pula kalimat-kalimat spiritual, “Lailahailallah, lailahaillallah, lailahailallah, terdengar dari ucapan orang-orang.

Ketika itu, ada korban yang terjepit dan ada pula yang tertimbun reruntuhan.

Tidak cuma itu, yang selamat pun masih harus bersusah payah berupaya membantu orang-orang yang terluka, yang terkena musibah.

Para pedagang di banyak pasar berusaha menyelamatkan harta benda yang mulai tertimbun reruntuhan material, bangunan, atau gedung.

Jalan-jalan dan lapangan dipenuhi warga yang berupaya menyelamatkan diri dari amukan gempa.

Tangis wanita dan anak-anak membuat suasana menjadi kian galau.

Suasana panik, hiruk-pikuk, kegalauan, dan kegamangan masyarakat saat itu tak ada yang memandu, tak ada yang menjelaskan apa yang sedang dan akan terjadi. Masyarakat pesisir atau mereka yang sedang berekreasi di tepi pantai memiliki pengalaman lain, bahkan terkesan unik.

Beberapa detik setelah gempa terjadi, mendadak air laut surut bagai tersedot ke tengah samudera.

Banyak ikan menggelepar-gelepar. Warga pesisir dan orang-orang yang berekreasi di hari Minggu itu lalu beramai-ramai menangkapi ikan yang kini kehilangan air.

Keriangan tampak pada wajah orang-Keriangan tampak pada wajah orang-orang ini.

Di sisi lain, ada orang per orang yang menyikapi surutnya air laut itu sebagai suatu peristiwa alam yang di luar kebiasaan, logika mereka menyatakan akan terjadi sesuatu.

Orang-orang tersebut segera bermigrasi, meninggalkan pantai tanpa terpikirakan sedikit pun akan terjadi gelombang yang maha dahsyat menghantam daratan.

Kepanikan melanda

Beberapa saat kemudian, dari kejauhan gelombang tsunami terlihat tengah berlari menggulung mendekati pantai dengan kecepatan tinggi.

Tak ada waktu lagi untuk menjauh, apalagi berlari. Sekejab itu pula terdengar jeritan histeris, terdengan kalimat Lailahaillallah, terdengar Allahuakbar.

Suara-suara itu membisu untuk selamanya. Mereka ditelan gelombang besar, terombang-ambing, timbul tenggelam, menuju daratan atau terseret arus dengan kecepatan tinggi.

Gelombang tsunami yang perkasa itu terus saja menjalar ke daratan. Suaranya bergemuruh menabrak apapun yang ada di depan atau menghalangi lajunya.

Bangunan yang roboh akibat gempa sebelumnya, dengan mudah dihanyutkan menuju daerah-daerah pesisir dan dataran rendah.

Mobil-mobil mengapung dibawa arus, aspal terkelupas, jembatan dan tanggul patah, jaringan listrik dan sarana komunikasi terputus, rumah-rumah penduduk hancur, dan bangunan-bangunan lain yang berada di pesisir pantai porak- poranda.

Kecepatan air begitu dahsyat sehingga banyak warga yang tak sempat menyelamatkan diri.

Kecepatan berlari seseorang jauh kalah cepat dibanding lajunya gelombang. Dalam sekejap, tubuh-tubuh manusia dilumat dan digulung sekaligus bersama reruntuhan bangunan.

Orang-orang yang berada di dalam rumah, tak sempat lagi menyelamatkan diri. Apa lagi yang masih terlelap pada pagi Minggu itu.

Hanya sedikit dari mereka yang beruntung dan bisa selamat, itu pun penuh dengan keajaiban-keajaiban dan di luar logika manusia.

Mereka yanglu put dari maut bermigrasi mencari dan menempati tempat-tempat yang diperkirakan aman dari jangkauan gelombang tsunami, seperti rumah-rumah ibadah, kantor-kantor pemerintahan, gedung-gedung sekolah, lapangan umum dan terbuka, serta rumah-rumah penduduk.

Bagi mereka yang tidak lagi memiliki tempat tinggal, kini menempati barak-barak pengungsian yang tersebar di berbagai lokasi yang dipersiapkan oleh pemerintah dengan fasilitas yang relatif  kurang memadai.

Gelombang itu Tsunami Bagai sebuah mimpi yang menakutkan, kejadian ini memang luar biasa, tidak hanya bagi masyarakat Aceh, tetapi juga bagi masyarakat internasional.

Betapa tidak, ribuan orang yang sedang berkumpul di tempat terbuka karena menghindari gempa,kini kocar-kacir dihempas gelombang setinggi 7 meter.

Dengan suara gemuruh, bagaikan seekor naga raksasa lapar, gelombang itu melumat dan merobohkan bangunan, pepohonan, rumah-rumah penduduk, lalu menyeretnya ke darat sejauh 7 km, kemudian menarik ke laut dengan kekuatan dan kecepatan yang sama hingga7 kali.

Dalam waktu 7 menit, tidak kurang tiga ratusan ribu orang yang mendiami daerah pantai Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Pidie, dan Aceh Utara, terapung menjadi mayat.

Sungguh di luar dugaan bahwa gelombang itu muncul dan menghantam daratan Aceh, walaupun mereka pernah mendengar dan meyakini adanya “ie beuna” saat dunia kiamat.

Maka ketika air itu mendarat, mereka berpikir dunia sudah kiamat. Karena itu tidak sedikit orang yang pasrah dengan hanya berucap kalimat Lailahaillallah dan Allahuakbar.

Masyarakat internasional pun terkesima karena istilah tsunami yang mereka pelajari dari berbagal literatur tidak sedahsyat yang terjadi di Aceh.

Asal tsunami

Para ahli mendeskripsikan tsunami sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut.

Gangguan impulsif ini bisa disebabkan oleh gempa tektonik, erupsi vulkanik atau land-slide (longsoran).

Kata ‘tsunami’ sendiri diadopsidari  bahasa Jepang, sebuah negara yang kerap dilanda gelombang ini.

Kata tsu’ bermakna pelabuhan dan ‘nami’adalah gelombang. Istilah tsunami belum dikenal oleh masyarakat Aceh, tetapi gejala yang sama pernah dikenal oleh masyarakat kepulauan Simeulu (Samudera Hindia) dengan istilah seumong’.

Masyarakat Simeulu mewarisi tradisi nenek moyang mercka, lari ke tempat yang lebih tinggi tatkala gempa menggoyang bumi, walaupun gelombang tak kunjung menghantam pemukiman yang mereka diami.

Dalam literatur oseanografi fisik atau coastal engineering disebutkan bahwa gelombang tsunami adalah gelombang perairan dangkal (shallow water wave) karena nilai perbandingan antara kedalaman laut dan panjang gelombang tsunami lebih kecil dari 1/20.

Kecepatan penjalarannya dari pusat terbentuknya tsunami menunju pantai semakin berkurang akibat gugusan dasar laut yang semakin dangkal.

Akibatnya, tinggi gelombang di pantai dapat menjadi semakin besar karena adanya penumpukan massa air akibat penurunan kecepatan.

Ketika mencapai daerah pantai, gelombang itu naik ke wilayah daratan dengan kecepatan yang berkurang menjadi sekitar 25-100 km per jam.

Kecepatan sebesar ini bisa menghancurkan kehidupan di daerah pantai. Dataran rendah pun bisa jadi tergenang membentuk lautan baru.

Kembalinya air ke laut setelah mencapai puncak gelombang bisa menyeret segala sesuatu kembali ke laut.

Daya hancur tsunami luar biasa, apalagi apabila dilihat dari kemampuannya menjalar banyak wilayah dan  menimbulkan kehancuran pada wilayah-wilayah tersebut.

Tsunami yang berasal dari gempa tektonik yang berpusat di samudera Hindia itu bahkan mengimbas pula setidaknya tujuh negara; Malaysia, Thailand,Maladewa, India, Somalia, Srilangka, dan Myanmar.

Menurut ahli geologi dan berdasarkan data yang terekan pada stasiun pengamat pasang surut yang dikumpulkan oleh lembaga International Tsunami Center, gelombang yang ditimbulkan oleh tsunami Aceh benar-benar teramat dahsyat, dan merambah jauh hingga India, Malaysia, Thailand, Slandia Baru, Meksiko, dan Rusia.

Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh gaya impulsif ini bersifat transient, yakni gelombangnya bersifat sesar. Gelombang seperti ini berbeda dengan gelombang lain pada laut  yang bersifat kontinyu, seperti gelombang laut yang ditimbulkan oleh arus angin atau gelombang pasang surut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda angkasa.

Periode gelombang angin hanya kurang dari 20 detik, sementara, periode gelombang pasang surut antara 12-24 jam, sedangkan periode gelombang tsunami berkisar antara 10-60 menit.

Gelombang yang disebabkan oleh arus angin hanya menggerakkan air di bagian atas, sedangkan gelombang tsunami menggerakkan seluruh kolom air dari permukaan hingga dasar laut.

Secara fisik diyakini bahwa kapal yang melintasi kawasan gelombang itu tidak akan merasakan fenomena alam tersebut, tidak mengalami goncangan, dan tidak pula terintimidasi oleh potensi bahaya yang ditimbulkan.

Berbeda dengan kenyataan yang dialami para nelayan yang berada di lepas pantai perairan Aceh saat tsunami terjadi, kapal boat mereka ikut terombang ambing oleh gelombang besar itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here