Aceh Masuk Masa Panen Padi

64

Kasadar.com, Banda Aceh | Memasuki minggu keempat Februari 2019, sejumlah kabupaten/kota di Aceh sudah memasuki masa panen padi. Misalnya, di Siron, Aceh Besar yang petaninya sudah mulai memanen pada minggu ketiga bulan ini. Sedangkan di Aceh Jaya, panen dilakukan pada minggu keempat Februari. Sementara, harga jual gabah atau padi saat ini berkisar antara Rp 4.600 hingga Rp 5.500/Kg.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Aceh, Ir A Hanan kepada Serambi, Rabu (27/2), mengatakan, kabupaten yang memasuki masa panen pada pekan keempat Februari adalah, Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Jaya, dan Aceh Barat. Luas areal yang panen, sebut A Hanan, sekitar 49.678 hektare. “Luas panen terbesar di Aceh Timur sekitar 8.878 hektare (ha), kemudian Aceh Barat 7.342 ha, selanjutnya Aceh Utara 6.771 ha, dan Pidie 6.106 ha,” sebutnya.

Selain keempat daerah itu, bebernya, masih ada beberapa daerah lagi yang panen pada awal Maret nanti, yaitu Bireuen 3.684 ha, Aceh Tamiang seluas 2.770 ha, Gayo Lues 2.573 ha, Nagan Raya 1.150 ha, Aceh Jaya 2.149 ha, Pidie Jaya 3.452 ha, Langsa 582 ha, Lhokseumawe 238 ha, Aceh Tenggara 468 ha, Aceh Selatan 641 ha, dan Simeulue 1.226 ha.

Hanan memaparkan, meski mulai memasuki masa panen, namun sampai kini belum ada kelompok tani yang mengeluh soal harga. Alasannya, karena harga terendah padi sementara ini di Aceh berkisar antara Rp 4.400-Rp 4.600/Kg untuk gabah kering panen, sedangkan gabah kering giling (GKG) mencapai Rp 5.500/Kg.

Sementara itu, untuk meningkatkan kualitas gabah petani, pada tahun 2018 lalu, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh telah memberikan bantuan alat pengeringan padi kepada sejumlah kelompok tani. Alat tersebut untuk membantu petani mengurangi air dalam bulir butir padi dari 24 persen pada saat panen menjadi 14 persen. Dengan kadar air yang sedikit, maka harga padi atau gabah tersebut bisa lebih mahal.

kata Kabid Produksi Padi Distanbun Aceh, Ir Mukhlis mengungkapkan, kelompok tani sangat senang dan gembira pada saat menerima bantuan alat pengering padi tersebut. Sebab, alat pengering itu sangat membantu para petani untuk meningkatkan kualitas gabah mereka. “Setelah ada alat pengering padi dengan kapasitas 6-10 ton/jam, petani yang menjemur di jalan dan di halaman rumah jadi berkurang. Mereka lebih memilih mengeringkan padinya menggunakan mesin pengering, daripada harus menjemur tiga hari,” ujarnya.

Bantuan alat pengering padi yang diberikan Kementerian Pertanian (Kementan) pada tahun 2018 lalu itu, sebutnya, sebanyak 23 unit yang disalurkan ke daerah yang kawasan areal persawahannya luas dengan masa tanam minimal 2 kali setahun.

Pada tahun ini, beber Mukhlis, Kementan kembali memberikan bantuan alat pengering padi sebanyak 10 unit. Alat ini akan diberikan kepada anggota kelompok tani yang telah memenuhi persyaratan, di antaranya wilayah tanamnya luas, anggotanya banyak, dan setahun dua kali panen.

SUMBERaceh.tribunnews.com
BAGIKAN

KOMENTAR FACEBOOK

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here