Anggota PPS di Aceh Selatan Meninggal Dunia Diduga Karena Kelelahan

221

Kasadar.com, Aceh Selatan| Muridah, salah seorang anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) Desa Peulokan, Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan yang melaksanakan tugas siang malam dalam kondisi sedang hamil 8 bulan, meninggal dunia pada Sabtu (27/4/2019) pagi.

Sebelum meninggal, korban yang tiba-tiba jatuh sakit pada saat sedang melaksanakan tugas, sempat dirawat di Puskesmas Labuhan Haji Barat sejak dua hari lalu. Karena kondisi fisiknya makin menurun, korban dirujuk ke RSUD Teuku Pekan (RS Korea) Blang Pidie, Aceh Barat Daya (Abdya).

Dokter yang menangani korban, terpaksa harus mengambil keputusan melakukan operasi karena melihat kondisi fisik korban sudah cukup lemas. Sehingga bayi dalam kandungan berhasil diselamatkan. Sementara korban menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Korea Blang Pidie.

Kabar duka tersebut langsung dilaporkan oleh Camat Labuhan Haji Barat, T.M.Nasrijal S.STP via sambungan telephone kepada wartawan Sabtu siang.

“Innalillahiwainnailaihirajiun, salah seorang anggota PPS Desa Peulokan telah meninggal dunia Sabtu pagi tadi,” ucap Nasrijal diujung telephone.

Muridah merupakan penyelenggara pemilu pertama yang menjadi korban keganasan Pemilu serentak tahun 2019 di daerah itu. Kasus ini makin menambah deretan jumlah korban dari penyelenggara Pemilu tahun 2019 yang meninggal dunia di seluruh Indonesia, karena kelelahan menjalankan tugas siang malam hampir sepuluh hari terakhir pasca berlangsungnya pemungutan suara 17 April lalu.

Keterangan yang dihimpun dari berbagai sumber di Labuhan Haji Barat oleh Camat TM. Nasrijal, sejak melaksanakan tugas pada saat proses penghitungan suara di TPS Desa Peulokan yang berlangsung hingga larut malam bahkan sampai subuh, korban yang dalam kondisi hamil telah pernah diingatkan agar lebih banyak beristirahat.

Peringatan serupa, lanjut camat, kembali disampaikan pada saat berlangsungnya rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2019 tingkat PPK yang berlangsung di Kantor Camat Labuhan Haji Barat.

“Korban merasa tidak enak untuk berhenti, karena merasa bertanggungjawab menyelesaikan proses rekapitulasi penghitungan suara Pemilu 2019 meskipun kondisi fisiknya sudah cukup lelah,” ungkap TM. Nasrijal.

Hentikan Pleno

Pasca menerima informasi korban telah meninggal dunia di RSUD Korea Blang Pidie, Camat TM.Nasrijal langsung menghubungi komisioner PPK Labuhan Haji Barat meminta agar proses rapat pleno dihentikan sementara waktu.

Rapat pleno, kata camat, baru boleh dilanjutkan kembali setelah jenazah korban selesai di kebumikan oleh pihak keluarganya bersama masyarakat Desa Peulokan.

“Saat ini jenazah sedang dalam perjalanan dari Blang Pidie ke Labuhan Haji Barat. Saya sudah meminta kepada seluruh komisioner PPK dan PPS di kecamatan saya, agar seluruhnya memakai baju seragam Pemilu 2019 menyambut jenazah di rumah duka. Proses rapat pleno penghitungan suara baru boleh dilanjutkan lagi, setelah jenazah selesai di fardhu kifayahkan,” Tutupnya.

SUMBERthetapaktuanpost.com/
BAGIKAN

KOMENTAR FACEBOOK

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.