Kasadar.com, Suka Makmur | Terkait dengan tinggi & rendahnya harga beli TBS, Pemerintah daerah tidak punya kewenangan untuk menentukan tingkat harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit. Harga TBS murni ditentukan oleh standar harga Crude Palm Oil (CPO) dunia.

“Faktor utama penentu harga TBS adalah harga CPO di pasar dunia. Bapak Bupati tidak memiliki kewenangan untuk menentukan harga TBS. Hal ini perlu diluruskan, apalagi ada statment yang menyebutkan ” Persekongkolan Pengusaha PKS di Nagan Raya” seperti yang disampaikan oleh oknum yang mengatasnamakan tokoh masyarakat, saya tegaskan itu pendapat yang keliru & tidak benar ” ujar Ari Saputra, SH General Manager PT. Kharisma Iskandar Muda (KIM)

Faktor lain yang mempengaruhi harga TBS adalah tergantung mutu/kualitas TBS. Buah segar, matang dan berkualitas akan mempengaruhi harga. Jika buah mentah, ukuran kecil kempes dan kering tentu harganya akan rendah. Harga sepenuhnya ditentukan oleh pasar.

“Usaha dagang PKS adalah usaha komersil bukan milik plat merah sehingga penetapan harga beli prodak TBS harus sesuai dengan jual hasil produksi CPO dan Karnel. Selama ini perusahaan PKS yang ada di nagan raya membeli hasil petani dibawah ketentuan rata-rata, misalnya TBS Berat Janjang Rata-Rata (BJR) yang harusnya kita terima di atas 8 kg, buah mantang dan brondol namun yang kita terima di PKS terkadang di bawah BJR 4 kg asal masak sedikit kita terima padahal secara teknis kita PKS sangat berpengaruh tidak dapat randemen CPO dan Karnel sehingga PKS juga berpeluang rugi.” – Ari Saputra

Kalau diwilayah pekanbaru, riau dan umumnya ditempat sudah diterapkan harga tbs sesuai kualitas berdasarkan grade A,B ,C jadi kalau petani menginginkan harga yang tinggi maka harus mengikuti kriteria mutu TBS ( buah mentah 0 % dan buah matang paling sedikit 95 % dan brondolan minimal 12,5 % dan tangkai panjang tidak boleh lebih dari 2,5 cm ). Dengan demikian petani bisa mendapatkan harga yang baik apalagi varietas tanamannya Tenera kalau duri daging buahnya tipis.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebuah situs online di Aceh, Geuchik Do (sapaan akrab) yang mengklaim dirinya seorang tokoh masyarakat Darul Makmur menyebut, harga sawit di Nagan Raya beberapa tahun terakhir ini mengalami penurunan ketingkat terendah.

Geuchik Do menjelaskan, penurunan harga sawit hingga berada pada harga terendah hanya terjadi di kepemimpinan H.Jamin Idham sebagai Bupati Nagan Raya.

“Pernyataan Geuchik Do tersebut adalah tendensius, keliru & tidak memahami perkembangan pasar dunia. Menurut saya, turunnya harga sawit tidak ditentukan oleh Bapak Bupati, tetapi ditentukan oleh kondisi dan situasi pasar”. – Tegas Ari Saputra.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here