Kasadar.com, Setiap orang pernah melakukan kesalahan, terlebih anak-anak yang memang sedang menjalani masa-masa pembelajaran tentang segala hal.

Namun, tak sedikit orang yang justru memilih untuk tak mengakui kesalahan, bahkan menyalahkan hal lain atas kejadian buruk yang menimpanya.

Membimbing anak agar mampu belajar dari kesalahan dapat membuat anak tumbuh sebagai pribadi yang mampu mengakui kesalahan dan cepat memperbaiki diri, serta membuat anak mampu menerima kritikan dan bangkit lebih cepat dari kegagalan.

Untuk bisa membuat anak mampu belajar dari kesalahan, tak sekadar dibutuhkan nasihat apalagi memarahi mereka, Melainkan bagaimana tanggapan, kritikan membangun, bahkan contoh yang ditunjukkan orangtua saat anak berbuat salah, dimulai dari kesalahan kecil sehari-hari.

Berikut cara membimbing anak belajar dari kesalahan tanpa membuat anak merasa diserang.

  1. Sampaikan apa salahnya
    Dalam keseharian, anak kerap tak luput dari kesalahan kecil. Misalnya, buku-buku atau mainan yang berantakan.

Agar anak paham akan kesalahannya, hindari untuk mengkritik anak seperti mengatakan mereka malas contohnya.

Kritikan negatif dapat membuat anak menganggap kesalahan adalah hal memalukan untuk diakui, dan itu membuat anak mencari-cari alasan atau hal lain untuk disalahkan.

Jadi, sampaikan secara spesifik apa kesalahannya, seperti “buku-bukumu berantakan, kita rapikan bersama ya”

  1. Terima perasaan anak
    Membuat kesalahan atau kegagalan bukanlah situasi mudah bagi anak, begitu pula bagi orangtua bila mengalaminya.

Bila anak terlihat kesal, sedih, atau kecewa atas kesalahan yang mereka buat, dengar dan terima perasaan anak terlebih dahulu, agar mereka merasa didukung untuk berbuat yang lebih baik.

Misalnya, dengan berkata “Ibu mengerti sulitnya kerjakan banyak tugas”. Barulah lanjutkan dengan memberi mereka semangat untuk lebih baik.

  1. Gunakan kata “seandainya”
    Saat anak kesulitan mengerjakan tugas atau mendapatkan nilai tak sesuai ekspektasi, hindari untuk merendahkan harga diri anak, seperti “kok kamu gitu saja enggak bisa? Si A saja bisa” atau “kamu sih malas belajar”.

Pilihlah kata-kata yang dapat menciptakan efek positif di masa mendatang.

Misalnya, “andai adek enggak ragu-ragu tanya sama bu guru, pasti lebih mudah mengerjakan tugasnya!” atau “seandainya lebih sering berlatih soal, pasti bisa dapat hasil lebih baik lagi.”

  1. Bantu anak pahami bahwa kesalahan bukan untuk dihindari tetapi diperbaiki
    Mengajarkan anak untuk terbiasa dan tidak malu mengakui kesalahan akan membuat anak tumbuh sebagai pribadi yang terus memperbaiki diri. Bukan sebaliknya, menjadi pribadi yang gengsi mengaku salah bahkan menimpakan kesalahan pada orang lain.

Untuk itu, langkah terpenting selanjutnya ialah bantu anak memahami bahwa kesalahan harus diakui, bukan dihindari, dan bisa diperbaiki.

Caranya, jadilah orangtua yang juga mampu mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Misalnya dengan berkata, “Ayah juga dulu sering menunda-nunda PR, tapi jadi repot sendiri dan malu diingatkan terus sama guru, akhirnya, kerjakan sedikit-sedikit, lama-lama beres juga.”

Intinya, agar anak menjadi pribadi yang lebih baik, kuncinya bukan bagaimana orangtua mendidik anak agar sama sekali tidak melakukan kesalahan, Melainkan ajarkan mereka bagaimana mengakui dan memperbaiki kesalahan tersebut.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here