DBD Menyebar di 9 Kecamatan

214

Kasadar.com, Banda Aceh |Serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kota Banda Aceh menyebar di sembilan kecamatan. Berdasarkan data yang diperoleh Awak Media dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banda Aceh, serangan penyakit berbahaya itu sudah berlangsung sejak Januari lalu. Hingga bulan Mei, tercatat 28 kasus, dengan jumlah penderita 17 pria dan 11 wanita, mulai dari umur 5-14 tahun dan 15-44 tahun.

“Semua orang bisa terkena DBD, tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Tergantung dari daya tahan tubuhnya, kini kondisi mereka rata-rata sudah bagus dan ada yang sudah pulang juga,” kata Kepala Dinas Kesehatan Banda Aceh, dr Warqah Helmi kepada Serambi, Sabtu (30/6).

Dia merincikan, kecamatan yang paling banyak kasusnya adalah Banda Raya dengan sembilan kasus. Kecamatan Baiturrahman enam kasus, Kecamatan Luengbata, Kuta Alam, dan Syiah Kuala masing-masing tiga kasus, serta Kecamatan Meuraxa, Jaya Baru dan Ulee Kareng masing-masing satu kasus.

Untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit mematikan itu, kata Warqah, pihak Dinkes Banda Aceh sudah melakukan pengasapan (fogging) ke rumah-rumah penderita DBD. “Fogging yang dilakukan sebanyak 26 kali. Karena ada satu kasus itu yang berdekatan rumahnya,” sebutnya.

Pengasapan dilakukan untuk membunuh nyamuk dewasa bukan jentik. Sementara agar jentik tidak berkembang menjadi nyamuk maka harus rajin membersihkan bak mandi seminggu sekali, dan menjaga kebersihan lingkungan.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, dr Warqah menganjurkan untuk mencegah perkembangbiakan agar dilakukan dengan memelihara ikan pemakan jentik. Dan untuk menghindari gigitan nyamuk, warga dianjurkan menggunakan lotion anti nyamuk, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, serta tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam kamar.

Kepala Dinas Kesehatan Banda Aceh, dr Warqah Helmi menjelaskan, terkait serangan DBD, Jumat (29/6) pihaknya telah melakukan pengasapan di di Jalan Malem Muda, Gampong Mulia, Banda Aceh, Jumat (29/6).

Pengasapan itu dilakukan setelah adanya laporan kasus DBD dari rumah sakit atau masyarakat dengan bukti hasil pemeriksaan laboratorium Ig G/Ig M (+) atau salah satu (+), apabila keduanya negatif tetapi terjadi peningkatan haematokrit.

“Laporan ditujukan ke Puskesmas dalam wilayah tempat tinggal penderita ke petugas DBD Puskesmas atau ke Seksie P2M Dinkes Banda Aceh. Lalu petugas DBD Puskesmas membuat laporan tentang perlu tidaknya kasus itu di fogging, yaitu laporan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk diteruskan ke Dinkes Banda Aceh, kemudian dilakukan fogging,” pungkas dr Warqah Helmi.

 

 

SUMBERTrimbun News
BAGIKAN

KOMENTAR FACEBOOK

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here