Ketua Panita Penyelenggara, Ali Azmi, menyampaikan keluhan dan harapan masyarakat nelayan di Kecamatan Labuhanhaji Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Selasa (30/03/2021). (Foto: FJ)

Aceh Selatan – kasadar.com | Masyarakat Nelayan Kecamatan Labuhanhaji Timur mengadakan Kenduri Laot, di Pelabuhan Mini/Penambatan Perahu, Dusun Darul Aman, Desa Keumumu Hilir, Kecamatan Labuhanhaji Timur, Kabupaten AcehSelatan, Selasa (30/03/21).

Kenduri terselenggara berkat kerjasama para nelayan dengan warga sekitar dan tokoh masyarakat setempat dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Acara tersebut turut dihadiri para ulama dan tokoh masyarakat, perangkat Desa Keumumu Hilir, Muspika Kecamatan Labuhanhaji Timur,  Kadis Kelautan dan Perikanan Aceh Selatan, Dzumairi, serta rombongan dan  Sekretaris Dinas Pendidikan Aceh Selatan, Azhar, juga dengan rombongan.

Kenduri diawali degan pembacaan Ayat suci Al Qur’an, dan doa bersama yang dipimpin oleh Abi Yualman, pimpinan Pondok Pesantren Baitil Himah yang beralamat Desa Keumumu Kilir, Kecamatan Labuhanhaji Timur, Kabupaten Aceh Selatan.

Mewakili Panglima Laot dan para Nelayan, Ketua Panita Penyelenggara, Ali Azmi, menyebutkan bahwa kegiatan Kenduri Laot ini merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun setiap tahun, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberi rezki kepada para nelayan melalui laut.

Selain itu, lanjutnya, kenduri ini juga diharapkaan dapat memperkuat ikatan silaturahmi sesama para nelayan, dengan masyarakat juga dengan pemerintah.

“Dalam kesempatan ini kami juga menyampaikan keluhan dan harapan kami kepada pemerintah” kata Ali Azmi.

Ada beberapa hal yang kami harap pemerintah, khususnya yang punya kewenangan dapat memberi sosuli terbaik bagi kami nelayan di Kecamatan Labuhanhaji Timur.

Karena sebut Ali Azmi menerangkan, setiap musim Barat, ombak di sini cukup besar, 5 orang nelayan dan salah satunya anggota DPRK Aceh selatan telah menjadi korban saat ombak besar pada musim Barat tahun lalu.

Tempat penambatan perahu nelayan juga masih belum layak, saat musim Barat tak sedikit perahu yang bersandar di sini dilarikan air laut.

“Di sini juga belum tersedia Tempat Pelelangan Ikan (TPI), sehingga sulit bagi nelayan untuk mengumpulkan dan menjual hasil tangkap kepada masyarakat, begitupun masyarakat kesulitan untuk membeli ikan karena harus mendatangi perahu yang besandar di bebatuan untuk membeli ikan,” terangnya.

Selain itu tambah Ali Azmi, akses jalan menuju lokasi pelabuhan mini ini belum diaspal, banyak lubang dan genangan air, teutama saat musim hujan, sehingga tidak nyaman untuk dilalui.

“Kami sangat berharap pemerintah melalui dinas terkait dapat meninjau kembali, mendengar keluhan kami dan mencari solusi terbaik demi keamanan para nelayan dan warga yang menggunakan fasilitas Pelabuhan Mini/Penambatan Perahu ini,” ujar Ali Azmi menyampaikan harapan ± 150 orang Nelayan di Kecamatan Labuhahaji Timur yang diwakili.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh Selatan, Dzumairi, dalam sambutannya menyampaikan, sesuai dengan peraturan Undang-Undang No.23 tahun 2014 dan di eksekusikan pada tahun 2021 ini, dengann sangat menyesal tidak dapat megamini keluhan para nelayan.

“Sebab menurut UU tersebut, untuk kegiatan fisik di pelabuhan sudah tidak diperkenankan lagi dikelola oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten, karena sudah dialihkan ke Provinsi dan Pusat,” ujarnya.

Namun demikan, pada kesempatan itu Dzumairi juga memberitahukan bahwa masih ada peluang mengatasi masalah yang dikeluhkan masyarakat nelayan Labuhanhaji Timur, “yaitu melalui aspirasi para anggota Dewan di tingkat Kabupaten dan Provinsi,” demikian. (FJ)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here