Dzikir Akbar Ratib Seribe Wujudkan Hidup Rukun

292

Kasadar.com, Jakarta | Dzikir Akbar atau Ratib Seribu (Rateeb Seribee) yang digagas Pimpinan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Asia Tenggara, Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidi, Ahad malam (18/3) menggema di Masjid Istiqlal, Jakarta. Puluhan ribu jamaah tumpah ruah larut dalam zikir di masjid terbesar di Asia Tenggara ini. Jamaah yang datang tidak hanya dari Jakarta dan sekitarnya tetapi banyak dari luar kota antara lain Padang, Sumatera Barat, Aceh, Manado, Sulawesi Utara dan lain sebagainya.

Murabbi MPTTI juga Mursyid Thoriqot Naqsabandiyah Khalidiyah, Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidi menyatakan tujuan Dzikir Akbar atau Ratib Seribu ini untuk mengajak umat Islam agar senantiasa mengingat Allah, senantiasa berdzikir kepada Allah, dan hanya bergantung kepada Allah.

“Dengan banyak berdzikir akan menghilangkan nafsu-nafsu jelek yang ada dalam diri kita, sehingga akhlak kita akan baik dan penuh kasih sayang, sehingga kita semua bisa hidup rukun dengan siapapun, termasuk dengan yang beda agama,” tutur Abuya dalam siaran pers yang diterima, Senin (19/3).

Menurut ulama kharismatik yang juga Mursyid Thoriqot Naqsabandiyah Kholidiyah ini, Dzikir Akbar/Ratib Seribee juga merupakan kunci terbukanya pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi, sehingga negara yang kita cintai diharapkan menjadi negara yang aman, damai dan makmur.

“Kita doakan semoga para pemimpin kita, senang berdzikir. Semoga Pak Jokowi pada saat yang sama juga sedang berdzikir,” imbuh Abuya.

Abuya juga berharap dengan Dzikir Akbar/Ratib Seribe seluruh masyarakat memiliki akhlak yang baik, terutama generasi muda. “Mudah-mudahan generasi muda kita bisa membentengi diri dari bahaya narkotika dan pergaulan bebas serta memiliki wawasan yang luas, karena mereka adalah penerus bangsa ini,” ujar Abuya.

Lebih lanjut Abuya menyatakan bahwa dzikir memiliki berbagai tingkatan. Pertama, lidahnya berdzikir tapi hatinya lalai dengan Allah, yakni masih dzikir lisan saja (dzikir ma’a al-goflah). Dzikir ini tidak apa-apa untuk tingkatan pemula, dilatih terus dzikir setiap saat.

Kedua, dzikir dengan mengingat Allah, terbayang dalam batinnya makna-makna dzikir inilah disebut dzikir ma’a al-yaqdhoh. Ketiga, dzikir dengan menghadirkan Allah di dalam hati dan selain Allah lupa(dzikir ma’a al-hudur). Pada tingkatan ini, hanya Allah yang diingat, semua urusan dunia, sudah dapat dilupakan dalam zikir. Jika kita bisa dzikir pada tingkatan ini, walau dzikirnya hanya 5 menit, maka Allah akan mudahkan semua hajat dan permohonan kita.

Keempat dzikir ma’a al-ghoibah, ini merupakan dzikir tingkatan tertinggi, dzikirnya para sufi. “dia telah fana/tenggelam dalam mengingat Allah, Inilah orang-orang yang bersama Allah, semua hajat dan permohonanya dikabulkan Allah, semua mereka berdoa kepada Allah,” ungkap Abuya.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudhoh Al-Hikam Syekh KH Zein Djarnuzi yang juga memberikan tausiyah pada acara Dzikir Akbar/Ratib Seribee tersebut menyatakan inti ajaran tauhid tasawuf yang dikembangkan MPTT Asia Tenggara adalah untuk membersihkan hati kita dari ketergantungan kepada selain Allah, melatih hati kita agar senantiasa dekat dengan Allah.
“Semoga MPTT Asia Tenggara bisa terus memberikan cahaya kepada seluruh pelosok negeri, dan juga di Asia Tenggara bahkan dunia,” ujar Syekh KH Zein.

Ketua MPTT DKI Jakarta, Tengku H Khairunnas dalam sambutannya menyatakan, MPTT memiliki motto tahan disakiti dan tahan untuk tidak menyakiti.
“MPTT DKI Jakarta terus merangkul berbagai kalangan, banyak para mantan pemakai narkoba, mantan pelaku kriminal dan kejahatan yang sudah taubat, kita bimbing agar akhlaknya semakin baik. Kita sangat terbuka kepada siapapun yang ingin bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah,” tutur Tengku H Khairunnas.

Acara Dzikir Akbar/Ratib Seribu dimulai pukul 19.30 WIB yang didahului dengan shalat Maghrib dan Isya berjamaah. Jamaah berbondong-bondong datang ke Masjid Istiqlal sejak sore hari dengan menggunakan kendaraan bus, mobil pribadi serta sepeda motor. Raut muka gembira tampak di wajah-wajah jamaah yang hadir. Iya, bathin mereka telah diisi dengan cahaya dzikir, sehingga hatinya merasa tenang dan tentram. Dan ketenangan hati ini terpancar pada raut wajah mereka.

 

SUMBERrepublika
BAGIKAN

KOMENTAR FACEBOOK

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here