Kasadar.com | Fatayat NU kota Banda Aceh mengadakan konferensi cabang ke VII di Dayah Mishrul Huda Malikulssaleh, Lamjamee, Banda Aceh pada Kamis (24/6).

Konferensi mestinya dilaksanakan lima tahun sekali, tetapi karena kondisi pandemi yang seharusnya dilaksanakan pada 2020 lalu, diundurkan pada tahun 2021 secara prokes.

Dari awal berdirinya pada 24 april 1950, Fatayat NU ini khusus organisasi beranggotakan perempuan yang berpaham ahlussunnawaljamaah.

Pada konfercab ke tujuh ini pc fatayat mengusung tema : menuju perempuan NU yang berdedikasi, mandiri dan berpaham aswaja.

Nurjannah, M.Si, Ketua PC Fatayat NU berharap konfercab ketujuh ini berlangsung dengan khidmat dan aman, dia berharap agar kedepan terpilih ketua yang berkomitmen mandiri dan bertanggungjawab dalam melaksanakan pucuk kepemimpinannya.

Iya juga menyampaikan disamping istri harus mandiri, didalam berumah tangga antara suami istri harus saling bekerja sama seperti kehidupan rasulullah saw dengan para istri-istrinya.

“Organisasi ini sangat peduli terhadap perempuan, bekerjasama sehingga membentuk perempuan yang mandiri dan berdedikasi tinggi, dalam pemahaman asjawa, Fatayat NU berpedoman sesuai dengan salah satu mazhab yang empat, sebut Nurjannah.

Konfercab ini turut dihadiri oleh ketua NU Banda Aceh, Ketua PW Fatayat NU Aceh dan pengurus fatayat masa Khidmat 2015-2020.

“Perempuan-perempuan fatayat harus istiqamah dan mandiri dalam menjalankan tugasnya sebagai perempuan, artinya tidak sepenuhnya tergantung suaminya,” lanjutnya lagi.
Salwa Hayati, S.Pt, MM selaku ketua PW Fatayat NU Provinsi Aceh juga menuturkan Fatayat NU perlu ada kaderisasi, dengan menjadi kadernya Nahdlatul Ulama (NU).

“Sahabat NU berperan aktif dalam kemajuan dayah, kita hindari diskriminisasi terhadap dayah. Semua pengurus harus bisa mengaji, jadi dengan terpilih ya ketua baru nantinya harus ada program aktifitas mengaji,” harap Salwa Hayati Hasan.

Salwa menambahkan selain paham ahlusunnah wal jamaah, kita harus dekat dengan tengku-tengku didayah dengan sering beraktifitas dan dekat dengan dayah, amalan agama akan bertambah.

Hal serupa juga disampaikan oleh Tgk Rusli Daud, SHi, M.Ag, melihat fenomena saat ini, dimana kaum perempuan dimarginalkan oleh budaya, banyak kebijakan yang dilahirkan tidak sesuai dengan syariat islam, banyak hal kesenjangan. Hal ini menjadi awal pergerakan di Kota Banda Aceh, melalui Fatayat NU menjadi corong. “Kita harapkan sanggup memberikan hal positif untuk kaum perempuan karena perempuan menjadi tolak ukur baik jahatnya dunia,” sebut Tgk Rusli Daud dalam tausiahnya.

Meski masa pandemic, adanya kaderisasi, maka organisasi ini tetap bertahan. Kedepan ketua NU menghimbau untuk membuat pengajian satu bulan sekali, sebagai ajang siilaturrahim dan momen bertukar pikiran yang ditujukan kepada pemuda, mahasiswa dengan memperkaya sdm berwawasan agama islam yang kuat.

“Semoga lahir pengurus yang baru yang solid,” pungkas yang akrab disapa Waled Rusli.

Diakhir konfercab dari amatan terpilih Ketua Umum dengan masa khidmad 2021-2026 secara aklamasi yaitu Kamisna, SPd. Ketua demisioner, Nurjannah berharap kepada ketua terpilih, agar mau berjuang dan Istiqamah dalam membesarkan dan menyukseskan perempuan Islam kedepan. (Jan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here