Jika terjadi paslon tunggal, berarti partai politik gagal melakukan kaderisasi.

121

Kasadar.com, Jakarta |Pasangan calon tunggal dalam pemilihan umum (pemilu) dianggap dapat meminimalisasi potensi konflik. Namun, hal tersebut akan menghambat perkembangan demokrasi di Indonesia.

“Untungnya, akan mengurangi potensi konflik. Jadi, konflik akan bisa diminimalisasi. Juga terjadi rekonsiliasi nasional antar sesama anak bangsa,” ungkap pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Islam Jakarta Ujang Komarudin saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (15/4).

Selain untung, Ujang juga mengungkapkan kerugian yang akan didapat bangsa ini jika dalam pilpres hanya ada satu pasangan calon, yaitu terkebirinya demokrasi. Menurutnya, pasangan calon tunggal tidak baik bagi perkembangan demokrasi karena demokrasi memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berkompetisi untuk menjadi pemimpin.

“Nah, ketika pasangan calon tunggal, demokrasi dikebiri. Masak, dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta orang, calon pemimpinnya hanya satu pasangan calon?” tuturnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review ini mengatakan, jika dalam pemilu benar-benar terjadi hal seperti itu, hanya ada satu pasangan calon, berarti partai politik gagal dalam melakukan kaderisasi. Partai politik dianggap tidak mampu dan gagal dalam menciptakan calon pemimpin bangsa.

“Jika terjadi calon tunggal, berarti juga semua kekuatan politik akan merapat ke pasangan calon tunggal tersebut. Artinya, berpotensi tidak akan ada checks and balances dalam pemerintahan ke depan,” kata dia.

Ujang pun mengingatkan istilah latin “Vox Populi, Vox Dei” yang berarti suara rakyat adalah suara Tuhan. Rakyat merupakan sang pemilik kedaulatan dan rakyatlah yang menentukan. Dengan hanya ada pasangan calon tunggal, rakyat tidak diberi pilhan. Rakyat hanya dijadikan korban kepentingan elit.

“Jadi rakyat sudah cerdas. Rakyat akan mengelus dada dan pasif, sambil berkata, negeri dengan jumlah penduduk 250 juta lebih hanya memunculkan calon pemimpin itu-itu saja,” tuturnya.

SUMBERnasional.republika.co.id
BAGIKAN

KOMENTAR FACEBOOK

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here