Kampanye dan Dakwah

180

Kasadar.com | SEJAK September 2018 lalu, kampanye pilpres dan pileg sudah resmi di-kick off. Sejak itu pula poster dan baliho mulai bermunculan di ruang terbuka publik hingga tiang listrik, substansinya tentu saja ajakan atau seruan untuk menggapai kondisi bernegara yang lebih baik. Merupakan tantangan tersendiri bagi kita di Aceh untuk menuansai proses politik ini dengan filosofi syari’ahnya agar terhindar dari persepsi sekularis. Kita bisa saja memersepsikan semua bentuk kegiatan kampanye sebagai ajang dakwah karena substansinya sesungguhnya berupaya mempertemukan idealisme ayat suci dan ayat konstitusi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dakwah adalah penyiaran/propaganda atau penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama. Sedangkan kampanye adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan dalam parlemen dan sebagainya untuk mendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara.

Apa-apa yang didoktrinkan agama agar hidup menjadi baik diketahui melalui ayat-ayat suci. Nilai-nilai itu kemudian menjadi idealisme penganutnya. Nilai-nilai idealisme itu bisa saja bersumber dari ajaran agama atau hasil pemikiran mendalam atau filosofis yang kebenarannya sulit untuk dibantah dan karena sulit dibantah itulah ia layak untuk diamalkan. Karena itulah setiap ajaran diawali dulu dengan keyakinan setelah melihat bukti-bukti empiris dari penerapan nilai-nilai itu dalam kehidupan praktis.

Ada keyakinan
Suatu nilai akan bersifat fungsional jika pada pengamalnya ada keyakinan atau kepercayaan terlebih dahulu, tanpa ada kepercayaan maka suatu nilai ajaran yang isinya adalah kesadaran untuk suatu perubahan kepada arah yang lebih baik. Karena itulah keberfungsian nilai-nilai Islam harus didahului oleh kekuatan keyakinan (akidah) yang setiap hari terus-menerus dikuatkan dengan proses ibadah.

Dakwah adalah ajakan untuk pro idealisme yang diingatkan dalam kitab suci. Gagasan tentang kebaikan dan kebajikan yang diajarkan untuk kemaslahatan dalam kehidupan bersama manusia adalah sarat dalam doktrin agama. Semua agama menentang perbuatan yang merusak dan membahayakan bagi kehidupan manusia dan kemanusiaan.

Dakwah bersifat mengingatkan dan memberi kabar gembira (basyiran wa nadziran). Topik-topik yang diingatkan selalu oleh para dai adalah topik-topik yang berkaitan dengan kemaslahatan bersama sehingga hal-hal yang merusak harus dihindari atau dihilangkan. Sedangkan hal-hal yang membangun harus dijaga dan diperkuat terus agar kemaslahatan hidup bersama dalam bermasyarakat akan tercapai.

Kesadaran akan idealisme yang dibangun berdasar ayat suci merupakan kesadaran yang bersifat makro dan masih abstrak, inilah yang menjadi domain dakwah. Dalam konteks ini, target dakwah sesungguhnya menyamakan persepsi jiwa untuk memandang suatu fenomena apakah masih sejalan atau tidak dengan nilai-nilai yang ditunjukkan agama.

Jadi dakwah lebih bersifat early warning atau berfungsi kontrol terhadap perilaku yang digariskan ayat suci. Karena itulah setiap dakwah mengajak dan menyeru umatnya secara terus-menerus apa yang diajarkan agama menjadi kesadaran individu yang pada gilirannya akan menjadi kesadaran komunal. Kesadaran komunal itulah yang kemudian diberi wujudnya dalam sebuah kesepakatan yang disebut konstitusi. Jadi, ayat konstitusi tidak selayaknya dipertentangkan dengan ayat suci, justru ayat konstitusi harus dipandang sebagai kontekstualisasi ayat suci menurut waktu, tempat, dan keadaan.

Tidak ada kampanye yang tidak menjual tujuan bernegara dalam visi, misi, program dan kegiatannya. Melindungi bangsa dan negara, mewujudkan kesejahteraan, serta mencerdaskan bangsa adalah tiga tujuan makro bernegara yang dikemas oleh para kontentan pilpres dan pileg; sejuta kemasan poster dan spanduk sekalipun, spiritnya pasti menyangkut salah satu, salah dua, atau salah tiga tujuan bernegara itu. Di sinilah dituntut kreativitas dan daya inovasi dari masing-masing kontestan.

Istilah aktif politik untuk menyebut ketiga tujuan bernegara yang hendak diwujudkan itu adalah pembangunan. Pembangunan dapat diartikan sebagai upaya aktif untuk mewujudkan apa yang menjadi idealisme dalam ayat konstitusi. Pembangunan juga dapat diartikan sebagai kesinambungan kondisi yang baik agar bisa menjadi lebih baik di masa-masa berikutnya. Pembangunan bukan hanya membangun infrastruktur fisik seperti jalan, gedung, jembatan dan sebagainya; tetapi pembangunan juga berbentuk ketertiban, ketenteraman, kerukunan, keamanan, kesehatan, kemelekan, dan banyak lagi yang bersifat non-fisik yang justru lebih banyak.

Pada titik inilah substansi kampanye selalu difokuskan. Beda dengan ajakan dakwah yang lebih berat bernuansa tekstual, ajakan kampanye harus betul-betul bersifat kontekstual dan prioritas. Dapat kita lihat dalam spanduk dan poster yang terpasang, ada calon yang memprioritaskan lapangan kerja, ada yang memperiositaskan pendidikan, kesehatan, jalan, dan sebagainya. Semua sah-sah saja bergantung pada situasi dan kondisi setempat.

Kampanye yang sarat dengan ajakan untuk mencapai kondisi yang lebih baik dalam satu urusan publik yang dinyatakan dalam ayat konstitusi, haruslah dipandang sebagai upaya mewujudkan apa yang diajarkan oleh ayat suci. Kampanye juga tidak absen selalu bersifat mengingatkan akan adanya tujuan tertinggi atau kondisi terjauh yang akan diraih dengan modal kondisi yang ada saat ini. Perlindungan agama, jiwa, harta, akal, keturunan, masyarakat, dan lingkungan adalah diantara tujuan tertinggi dan terasas dari ayat suci. Kini, ayat konstitusi kita telah mengemasnya menjadi lebih aplikatif dengan istilah hak asasi manusia, demokrasi, kesetaraan gender, dan sebagainya.

Kampanye sesungguhnya adalah konkretitasi dari apa yang digambarkan secara makro oleh ayat konstitusi. Dalam konteks inilah seorang kontestan pemilu dituntut untuk fokus, detil, dan teknis dalam mengemas program dan kegiatan-kegiatan yang ditawarkannya. Jadi, kampanye lebih merupakan konkretisasi kebajikan itu sendiri; kebajikan yang terukur.

Fokus pada isi
Antara dakwah dan kampanye sesungguhnya dua sisi mata uang; tergantung persepsi kita sebagai pemilih melihatnya. Meski dalam teorinya dakwah lebih kepada penguatan keyakinan pada kebaikan hidup yang ditunjukkan oleh ajaran agama (hablumminallah); sedangkan kampanye tidak lain pada upaya untuk merealisasikan kebaikan menjadi kenyataan dengan pola dan formula yang ditawarkan kepada sesama manusia (hablumminannas).

Dalam menyikapi fenomena kampanye jika kita memasang perspektif agama akan lebih menenangkan dan menentramkan. Anggapa saja semua calon adalah pendakwah-pendakwah yang berebut kebajikan, kita akan memilih kemasan kebajikan yang paling baik. Kemampuan memilih yang terbaik tentu tidak akan terjadi jika sejak saat ini ogah dan sinis memandang dan membaca poster, baliho yang mereka pasang dengan dana yang sangat besar.

Hanya orang yang masih berpikir dikotomis antara agama dan negara yang menganggap kampanye adalah urusan politik yang tidak ada hubungannya dengan urusan agama. Padahal, hampir semua yang dikampanyekan adalah hal-hal yang menjadi perhatian dan kepedulian agama. Agama resah dengan kemiskinan, kebodohan, ketimpangan sosial, diskriminasi, kezaliman, permusuhan, ketertinggalan, kualitas hidup yang rendah, dan sebagainya. Topik-topik inilah yang diolah menjadi materi kampanye yang sesungguhnya juga menjadi keresahan agama.

 

SUMBERaceh.tribunnews.
BAGIKAN

KOMENTAR FACEBOOK

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.