Ketua Umum IDI, dr Daeng M Faqih. (Foto: Screenshoot 20detik)

Kasadar.com, Jakarta| Belakangan ini, beberapa pihak yang menyebut bahwa virus corona COVID-19 tak bisa hidup di Indonesia karena cuaca panas. Sebelumnya narasi yang sama juga pernah tercetus saat kasus virus corona belum terdeteksi di Indonesia. Banyak yang mengaitkan iklim tropis membuat Indonesia ‘kebal’ corona.

Kemunculan infeksi pertama di Indonesia hingga kini telah 1.790 kasus tentu saja membantah anggapan tersebut. Hingga kini belum ada penelitian yang menunjukkan virus corona bisa mati di cuaca panas.

“Kalau itu postulatnya (anggapan-red) maka di daerah yang panas seperti Saudi Arabia itu mati semua (virusnya), kan lebih panas dari kita,” kata Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Daeng M Faqih, dalam konferensi pers daring Katadata, Jumat (4/3/2020).

Selain itu, banyak yang menggaungkan berjemur dapat mencegah penularan virus corona. Bahkan ada waktu-waktu terbaik yang disarankan agar serapannya lebih maksimal.

Disebutkan oleh dr Daeng, berjemur bisa menjadi salah satu cara meningkatkan daya tahan tubuh. Namun jangan menjadi terlalu yakin bahwa virus akan mati hanya dengan berjemur di sinar matahari.

“Jangan sampai terlalu percaya diri bahwa berjemur, virus akan mati. Virus itu bertahan lama bukan di badan atau baju, tapi di tenggorokan karena reseptor virusnya di tenggorokan kita. Itu akan bertahan hidup kecuali imunitas kita bisa melawan,” jelasnya.

“Jadi jangan berjemur dianggap bebas virus, itu hanya sebagian kecil (upaya pencegahan) saja,” pungkasnya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here