Keindahan Arsitektur Masjid Jama India

103

Kasadar.com, Jakarta |  Shah jahan mengerahkan kurang lebih 5.000 pekerja untuk membangun Masjid Jama. Proses pembangunannya berlangsung selama 13 tahun, dengan menghabiskan biaya sekitar satu juta rupee.

Seluruh badan masjid tersusun dari batu pasir dan marmer warna putih. Untuk melihatnya lebih dekat, setiap pengunjung terlebih dahulu harus menapaki susunan tangga yang cukup tinggi di sebelah timur, utara, atau selatan.

Tangga bagian utara memiliki 39 anak tangga; sebelah selatan terdiri atas 33 anak tangga; dan yang di bagian timur memiliki 35 anak tangga. Di area sekitar tangga-tangga itu banyak dijajakan ragam makanan, kerajinan, dan pernak-pernik khas India. Sebelum tahun 1857, terdapat bangunan madrasah di sebelah tangga bagian selatan. Namun, bangunan tersebut roboh akibat kerasnya aksi peperangan kemerdekaan di India.

Setelah tuntas menapaki anak-anak tangga, segera terhampar teras terbuka. Di sini, tampak bangunan masjid secara utuh. Masjid menghadap ke barat, layaknya masjid-masjid di Indonesia. Seluruh sisinya dikelilingi oleh tiang-tiang melengkung. Di tengah barisan lengkungan, pada setiap sisi masjid berdiri sebuah pintu gerbang yang dihiasi ornamen-ornamen khas Islam.

Tiga kubah masjid berlapis marmer putih dan bergaris-garis hitam bertengger di atap. Ujung setiap kubah dilapisi emas. Tepat di bawah ketiga kubah itu, merupakan ruang dalam yang cukup lebar yang dikelilingi 260 tiang berbentuk melengkung dan saling bersambung.

Di bagian yang lebih dalam terdapat ruang shalat utama seluas 60×27,5 meter persegi. Di sekelilingnya, terdapat 11 pintu masuk yang juga berbentuk melengkung. Di sini, terdapat satu pintu gerbang utama yang dihiasi ornamen-ornamen penuh warna di seluruh bagiannya. Menara langsing mengapit di kedua sisi pintu gerbang itu.

Yang tak kalah mengagumkan adalah lantai masjid. Seluruh lantai tersebut terbuat dari marmer hitam dan putih, yang dihiasi warna-warna mencolok layaknya hamparan sajadah. Marmer hitam membelah barisan marmer-marmer putih untuk menandai batas shaf (barisan) shalat.

Perbedaan agama bagi masyarakat yang ada di sekitar masjid, ternyata tidak mampu memelihara warisan agung itu. Pada 14 April 2006, terjadi dua ledakan bom di dalam masjid yang mencederai 13 orang. Saat itu, di dalam masjid berkumpul sekitar seribu umat Islam usai melaksanakan shalat Jumat. Pihak pengurus masjid melaporkan tidak ada kerusakan berarti pada bangunan masjid.

Keutuhan masjid hingga kini menjadi bukti tingginya nilai seni arsitektur Dinasti Mogul tersebut. Kebesaran nama Allah dan kemegahan bangunan masjid membaur jadi satu dan mengundang orang-orang yang beriman untuk senantiasa mengunjunginya, beribadah, dan berzikir di dalamnya. Di dalam keindahan seni arsitektur itu, terdapat kedamaian jiwa-jiwa tulus yang senantiasa memuji Sang Pencipta.

SUMBERrepublika
BAGIKAN

KOMENTAR FACEBOOK

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here