Khutbah Jum’at Mesjid Raya Baiturrahman : Hikmah Isra’ dan Mi’raj

Oleh Dr. Tgk. Samsul Bahri, M. Ag.

Khutbah Jum’at Mesjid Raya Baiturrahman, 20/03/2020

Kasadar.com, | Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Melihat. (Q.S. Al-Isra: 1).

Para sejarawan umumnya mencatat, Isra’ dan Mi’raj terjadi pada tahun ke-10 kenabian. Diawali oleh serentetan peristiwa memilukan yaitu meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah, serta penolakan masyarakat Thaif ketika Rasulullah berhijrah ke sana. Abu Thalib adalah paman Rasulullah yang mengasuh beliau sejak remaja. Abu Thalib juga mengajarkan banyak hal tentang kehidupan kepada beliau. Setelah beliau diangkat menjadi rasul dan mendapatkan penentangan yang luar biasa dari  masyarakat Quriasy, Abu Thalib tetap memberikan perlindungan penuh kepada beliau. Peristiwa meninggalnya Abu Thalib sangat membuat beliau berduka, bukan hanya karena telah kehilangan seorang yang sangat dicintai, tetapi juga karena Abu Thalib meninggal sebelum memeluk Islam. Atas kesedihan ini, Allah memberikan pembelajaran sangat berharga bahwa: sesungguhnya engkau tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai sekalipun, namun hanya Allah yang dapat menunjuki siapa saja yang Allah kehendaki.(Q.S. al-Qashash: 56).

Kesedihan Rasulullah semakin sempurna dengan peristiwa meninggalnya Khadijah, isteri beliau. Khadijah adalah sosok perempuan pejuang yang merelakan harta serta jiwa raganya demi dakwah Islam. Sungguh besar pengorbanannya untuk Islam. Maka Rasulullah pun berduka tatkala Khadijah meninggal dunia.

Sepeninggal Abu Thalib dan Khadijah, Rasulullah menuju Thaif; untuk dakwah sekaligus menjalin hubungan dengan kerabat dari pihak ibunda beliau. Sayangnya, masyarakat Thaif yang sudah terlebih dahulu diprovokasi oleh Abu Jahal cs, menolak dakwah Rasulullah dan bahkan mengusir beliau dengan kekerasan.

Perjalanan Suci Dua Masjid

Dalam keadaan seperti itulah, Rasulullah diperjalankan pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yang diistilahkan dengan peristiwa Isra’. Segera setelah itu, beliau dinaikkan ke sidratul muntaha yang dikenal dengan peristiwa mi’raj. Di sidartul muntaha, Rasulullah menerima perintah shalat fardhu, yang awalnya sejumlah 50 waktu, namun nanti secara berangsur-angsur dikurangi oleh Allah sehingga berjumlah lima waktu saja seperti yang kita laksanakan dewasa ini.

Pemililhan dua masjid terkemuka di dunia sebagai jejak Isra’ dan Mi’raj bukanlah tanpa dasar. Masjidil Haram adalah bangunan pertama di muka bumi yang dijadikan sebagai tempat beribadah.

Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia ialah baitullah yang di Mekkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. (Q.S. Ali Imran: 96)

Itulah Masjidil Haram yang berada di Mekah yang diberkahi oleh Allah. Demikian pula halnya dengan penentuan Masjidil Aqsha sebagai rute yang dilintasi dalam perjalanan suci dimaksud, di samping karena telah dijejaki oleh telapak kaki para Rasul Allah, juga karena masjid ini dan sekitarnya ditegaskan sebagai kawasan yang memperoleh keberkahan Allah; allazi barakna haulahu (yang kami berkahi sekitarnya). Ini artinya, baik Masjidil Haram maupun Masjidil Aqsha adalah dua tempat yang diberkahi oleh Allah. Kedua tempat ini dipilih sebagai bagian dari rute Isra’ dan Mi’raj yang dilatarbelakangi sebagai bagian dari hiburan bagi Rasulullah setelah mengalami kesedihan dan dukacita yang mendalam. Maka dengan dibawa melintasi dua kawasan yang penuh berkah ini, Rasulullah kembalil memiliki semangat juang yang tinggi.

Lebih-lebih lagi, dua kawasan ini; Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dipilih oleh oleh Allah sebagai rute penjemputan ibadah utama dalam Islam yaitu Shalat fardhu lima waktu. Maka bagi umat Islam, baik Masjidil Haram mapun Masjidil Aqsha memiliki arti tersendiri yang tak dapat diabaikan.

Masjidil Haram itu berada di Mekah, yang setiap saat dirindukan untuk dikunjungi oleh kaum muslimin dari seantero dunia. Bagi yang pernah ke sana, terdorong untuk mengulanginya lagi dan lagi. Sejumlah catatan menyebutkan bahwa sepanjang sejarah kehidupan umat manusia, kunjungan ke Masjidil Haram selalu dilakukan secara periodik, terutama pada musim haji. Bahkan, dalam waktu sepuluh kurun terakhir ini, masjid mulia ini tak pernah sepi dari kunjungan para hamba Allah yang senantiasa mengitari ka’bah sucinya dalam thawaf-thawaf mereka. Kecuali sejak beberapa hari terakhir ini. Karena kekuatiran penyebaran virus corona, aktivitas ibadah di ka’bah suci sedikit dibatasi. Semoga Allah memulihkan situasi kembali.

Akan halnya Masjidil Aqsha terletak di Yerussalem, Palestina. Saat ini dikuasai oleh Yahudi. Kaum muslimin hampir-hampir tidak bisa memasukinya sejak sekitar setengah abad terakhir ini. Tidak hanya umat Islam yang meyakini bahwa Masjidil Aqsha adalah poros bumi lainnya setelah Masjidil Haram. Orang-orang Yahudi juga percaya bahwa barangsiapa yang menguasai kedua poros bumi, ia akan menguasai dunia. Maka tak heran, lobi-lobi Yahudi mengantarkan proposal the deal of century yang digagas Donald Trump. Tujuannya hanya satu, menguasai Al-Aqsha sebagai tanah yang diberkahi dan menguasai Al-Aqsha sebagai poros bumi untuk menguasai dunia. Maka Umat Islam jangan sampai terpedaya oleh tawaran dolar dan permata. Yerussalam harus kembali kepangkuan kita. Semoga Allah membimbing dan meridhai. Aamin ya Rabbal ‘Alamin

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here