Kasadar.com, | Negara Indonesia menganut sistem Demokrasi. Setiap individu punya hak berbicara, berpendapat, menentukan sikap, memilih, dan sebagainya. Di era modern atau teknologi canggih seperti sekarang berargumen/berpendapat sudah di anggap sebagai bahan perundungan atau lebih kenal di “Bully”. Hal seperti itu sebagai fenomena sosial saat ini.

Bully adalah kata yang berasal dari bahasa Inggris. Mungkin saat ini beberapa orang tidak begitu mengerti apa terjemahan kata bully dalam Bahasa Indonesia.

Menurut Olweus (1993; dalam Anesty, 2009) memberikan contoh tindakan negatif yang termasuk dalam bullying antara lain:

Pertama, Mengatakan hal yang tak menyenangkan ataupun memanggil seseorang dengan julukan yang buruk.
Kedua, Mengabaikan atau mengucilkan seseorang dari suatu kelompok karena sebuah tujuan.
Ketiga, Memukul, menendang, menjegal atau menyakiti orang lain secara fisik.
Keempat, Mengatakan kebohongan atau rumor yang tidak benar mengenai seseorang atau membuat orang lain tidak menyukai seseorang dan hal-hal semacamnya.

Merujuk pada Kamus Bahasa Indonesia ke Inggris, arti kata bully dalam bahasa Indonesia adalah perundungan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa arti kata bully adalah rundung, sedangkan perundungan adalah bullying. Penggunaan kata perundungan sepertinya tidak begitu populer dalam masyarakat Indonesia. Khususnya masyarakat awam. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan tidak banyak/tidak ada media berita populer menggunakan kata tersebut.

Dalam hal ini misalnya, suatu ketika memberikan pandangan yang bersifat kritik baik itu kritikan terhadap teman, mitra kerja, maupun kepada instansi pemerintahan maka kritikan tersebut di anggap sebagai hal negatif sehingga argumen seseorang di jadikan bahan olok-olok atau di bully karena dianggap merugikan sepihak.

Seharusnya suatu kritikan yang sifatnya membangun itu bisa dijadikan bahan evaluasi kedepan, guna apa yang ingin di capai bisa terlaksana sesuai rencana yang diharapkan.

Contoh, siswa yang telat hadir ke sekolah maka di berikan sanksi hukuman oleh guru. Setelah mendapatkan hukuman tersebut, teman-teman kelas ngebully siswa terlambat itu dengan berbagai bahasa. Makna hukuman itu adalah menjaga kedisplinan.

Contoh lain, mahasiswa melayangkan kritikan kepada pemerintah dalam suatu kebijakan, kebijakan tersebut dianggap merugikan orang banyak. Di suatu kelompok di bully-nya mahasiswa itu karena di anggap berlawanan arus yang akan mengagalkan tujuan dari kelompok tersebut. Makna kritikan itu adalah sebuah teguran, mengingatkan, peduli terhadap kondisi lingkungan.

Menurut ahli Sosiolog Nia Elvina mengatakan perisakan (bullying) merupakan fenomena yang sedang berkembang dalam masyarakat. Ia mengatakan, sebagaian besar masyarakat menganggap bullying merupakan suatu hal yang biasa atau dalam istilah sosiologinya adalah sesuatu yang sudah tidak dipertanyakan lagi.

Misalnya, kalau di implementasikan sila pertama dan kedua, tentu perwujudan kasih sayang sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan nilai sesama manusia yang dijunjung tinggi. Tentu kasus-kasus bullying tidak akan pernah terjadi atau minim.

Menurut Rigby (2005; dalam Anesty, 2009) merumuskan bahwa “bullying”
merupakan hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan dalam aksi, menyebabkan orang lain menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh
seseorang atau sekelompok orang yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab,
biasanya berulang dan dilakukan dengan perasaan senang.

Penulis. Zunarlis
Mahasiswa Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here