Masyarakat belum Sadar dan Siap Hadapi Bencana

190

Kasadar.com, Banda Aceh | Sebanyak 25 peserta pelatihan Reform Leader Academy (RLA) angkatan XVII Tahun 2018 yang berlangsung sejak empat bulan lalu di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur IV Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (PKP2A IV LAN RI) Banda Aceh berakhir dan semua peserta dilepas untuk kembali ke provinsi masing-masing, Jumat (23/11).

Penutupan RLA angkatan XVII juga dirangkai dengan kampanye aksi reformasi birokrasi nasional (RBN) dengan menghadirkan empat narasumber masing-masing Dr Ir Muhammad Dirhamsyah MT dari Unsyiah yang juga Unsur Pengarah Profesional BPBA, Kapolda Aceh diwakili Karo Ops Kombes Dedi, Kalak BPBA HT Ahmad Dadek SH, dan Deputi Bidang Inovasi Administrasi Negara LAN RI Dr Tri Widodo Wahyu Utomo. Keempat narusumber dimoderatori Yarmen Dinamika, Redpel Harian Serambi Indonesia.

Salah satu tugas akhir yang dihasilkan oleh peserta RLA angkatan XVII adalah penyusunan makalah kebijakan ringkas (policy brief) dari pendidikan RLA yang mengusung tema living harmony with disasters tersebut.

Dalam policy brief berjudul ‘Wujudkan Masyarakat Indonesia Tangguh Bencana’ diungkapkan tentang fakta empisir-aktual yang antara lain merekemondasikan bahwa masyarakat belum sadar dan siap menghadapi bencana apalagi tangguh bencana.

Peserta pendidikan RLA angkatan XVII mengutip data BNPB tentang bencana di Indonesia yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Pada periode Januari hingga pertengahan November 2018, telah terjadi 2.156 bencana di Indonesia dengan korban 4.188 orang meninggal dan hampir 10 juta jiwa terdampak.

Bencana tersebut juga telah menimbulkan kerusakan infrastruktur penting seperti 658 fasilitas pendidikan dan 77 fasilitas kesehatan, di samping 369.000 kerusakan rumah.

Dari fakta-fakta ini, menurut peserta LRA angkatan XVII, membuktikan bahwa masyarakat belum sadar dan siap menghadapi bencana apalagi tangguh bencana. “Padahal sudah ada contoh kejadian bencana alam yang sangat besar sebelumnya di Aceh pada 26 Desember 2004 yang menelan korban lebih dari 280.000 jiwa,” demikian peserta pendidikan RLA angkatan XVII di LAN Aceh.

Deputi Bidang Inovasi Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Dr Tri Widodo Wahyu Utomo yang tampil sebagai salah seorang pemateri pada Kampanye Aksi Reformasi Birokrasi Nasional dalam rangkaian penutupan pendidikan Reform Leader Academy (RLA) angkatan XVII di LAN Aceh, Jumat (23/11) mengatakan, “tidak ada masyarakat tangguh (bencana) tanpa adanya kesulitan (yang dihadapi).”

Tri Widodo sempat menanggapi pandangan yang disampaikan seorang peserta talkshow tentang fenomena pada saat-saat awal pasca tsunami Aceh di mana wilayah pinggiran pantai yang seharusnya bebas dari permukiman ternyata dalam waktu singkat kembali seperti sebelum bencana terjadi. Terhadap fakta itu, Tri menanggapi sambil mempertanyakan, “kalau di pesisir (pantai) tidak aman, lalu adakah tempat aman di dunia ini?”

Menurut Tri, persoalannya bukan pada di mana kita tinggal tetapi sejauh mana pengetahuan kita tentang bencana. “Tak ada masyarakat tangguh tanpa adanya kesulitan. Sebagai contoh, di Arab Saudi yang kesulitan air, lalu apakah mereka harus berbondong-bondong ke Indonesia. Tidak, tetapi mereka menghadapi kesulitan itu hingga memunculkan berbagai teknologi untuk mengatasi kesulitan,”.

SUMBERaceh.tribunnews.
BAGIKAN

KOMENTAR FACEBOOK

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here