Mengenang 111 Tahun Meninggalnya Cut Nyak Dhien – Inspirasi Bagi Wanita Modern

345
Tjoet Nyak Dien, Sang Pendekar Wanita dari Aceh (1848-1908).

Mengenang 111 Tahun Meninggalnya Cut Nyak Dhien – Inspirasi Bagi Wanita Modern

Mulyadi Nurdin, Lc, MH

Oleh Mulyadi Nurdin, Lc, MH*)

Kasadar.com,| Hari ini 6 November 2019, tepat 111 tahun yang lalu, Aceh kehilangan seorang perempuan pejuang hebat yang memimpin pasukan laki-laki dan perempuan dalam salah satu perang terhebat yang pernah dirasakan Belanda di Indonesia.

Cut Nyak Dhien (ejaan lama: Tjoet Nja’ Dhien), perempuan kelahiran Lampadang, Kerajaan Aceh, tahun 1848, meninggal dunia dalam pengasingan di Sumedang, Jawa Barat, tanggal 6 November 1908.

Pahlawan Nasional ini dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.

Cut Nyak Dhien adalah satu dari ratusan, mungkin ribuan perempuan Aceh yang bertempur melawan penjajahan.

Cut Nyak Dhien bukanlah wanita modern yang identik dengan emansipasi, kesetaraan, bebas berkarir, bebas berekspresi, menduduki jabatan strategis di berbagai sektor pemerintahan dan pelayanan publik.

Ketika Cut Nyak Dhien bertempur melawan para jenderal Belanda, seratusan tahun lalu, taka da isu gender seperti yang gencar dihembuskan akhir-akhir ini.

Sejak seratusan tahun lalu, wanita Aceh tidak dipandang sebagai kaum kelas dua.

Perempuan Aceh memiliki peran yang sangat besar dalam masyarakat, malah ketika kaum adam berhalangan, maka wanita Aceh tampil mengambil alih kendali.

Adalah Cut Nyak Dhien sebagai satu contoh, wanita perkasa yang mengambil alih perjuangan rakyat Aceh melawan penjajahan Belanda saat suaminya, Ibrahim Lamnga, syahid dalam pertempuran dengan Belanda.

Hal serupa juga terjadi ketika laksamana perempuan pertama di dunia, Keumalahayati yang memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee, janda-janda pahlawan yang telah syahid, berperang melawan Belanda tanggal 11 September 1599.

Laksamana Malahayati, nama wanita perkasa dari Aceh ini tercatat dalam sejarah sukses mengalahkan dan membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal.

Jauh ke belakang, 6 abad sebelumnya, Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh para Ratu yang dimulai dengan diangkatnya Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin (memerintah tahun 1641-1675 M) sebagai Ratu Kerajaan Aceh Darussalam.

Selanjutnya selama 58 tahun Aceh secara beruntun dipimpin oleh empat orang Ratu.

Di samping itu masih banyak figur wanita hebat yang tercatat di Aceh seperti Teungku Fakinah, Cut Meutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, Pocut Meurah Inseun, dan mungkin mencapai ribuan pejuang perempuan Aceh yang tidak tercatat namanya.

• Cut Nyak Dhien

Pantang Menyerah

Wanita Aceh pantang menyerah pada nasib, tetapi akan selalu bangkit memperbaiki diri, keluarga, dan bangsanya.

Walau tanpa ada komando dari kaum laki-laki.

Kembali ke kisah perjuangan Cut Nyak Dhien, ketika suaminya, Ibrahim Lamnga sebagai pemimpin pasukan perlawanan terhadap penjajah Belanda meninggal dunia, Cut Nyak Dhien bukan patah semangat atau meratapi kepergiannya.

Tetapi justru bersumpah akan melanjutkan perjuangannya.

Malah ketika Teuku Umar melamarnya, Cut Nyak Dhien menolak dengan tegas karena khawatir tidak bisa lagi ikut berjuang bersama kaum wanita lainnya membela bangsa dan agamanya.

Tetapi setelah Teuku Umar berjanji memberikan kesempatan kepada Cut Nyak Dhien untuk ikut serta melawan penjajahan, baru ia menerima lamaran tersebut dan menikah pada tahun 1880 M.

Perjuangan tidak berhenti sampai di situ.

Ketika Teuku Umar meninggal pada tahun 1899 M, Cut Nyak Dhien terus mengobarkan perlawanan kepada Belanda.

Berkorban Demi Agama dan Bangsa

Perjuangan Cut Nyak Dhien didasari pada semangat jihad dan perjuangan demi agama, bangsa dan negara.

Cut Nyak tidak membiarkan penjajah leluasa menginjakkan kakinya di Aceh, dalam hal ini Cut Nyak Dhien jelas-jelas telah mengerahkan seluruh jiwa, raga, dan keluarga kepada perjuangannya, sehingga suaminya syahid di medan pertempuran.

Kesyahidan suaminya itu membawa rasa sedih dan duka pada keluarga terutama anaknya, yang bersedih dan menangis atas kepergian ayahnya.

Namun Cut Nyak Dhien dengan tegas mengingatkan anaknya dalam sebuah pernyataan yang sangat populer:

“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.”

• Monolog Cut Nyak Dhien Dipentaskan di Hadapan Masyarakat Aceh Jakarta

Memiliki Jati Diri

Sejak kecil Cut Nyak Dhien dibesarkan dalam suasana kekeluargaan dan religius oleh orang tuanya.

Sehingga beliau dikenal sebagai seorang wanita yang menguasai ilmu agama dan juga turut mengurus urusan rumah tangganya.

Beliau dibesarkan dalam keluarga bangsawan di Aceh Besar, namun ketika agama dan bangsa dijajah, beliau rela meninggalkan kemewahan dan tahta.

Cut Nyak lebih memilih untuk hidup di hutan belantara bersama pasukan yang dipimpinnya.

Ibu Prabu

Ilmu yang dimiliki oleh Cut Nyak Dhien turut diajarkan kepada pengikut dan masyarakat yang ada di sekitarnya.

Malah ketika beliau diasingkan ke Sumedang oleh Belanda di usia senja, beliau tetap mengajar ilmu agama bagi masyarakat yang ada di sekitar.

Ilmu dan kesalehan Cut Nyak Dhien membuat masyarakat Sumedang menggelarnya dengan nama Ibu Prabu atau Ibu Suci.

Selama pengasingan di Sumedang, ia ditempatkan di sebuah rumah milik tokoh Sumedang kala itu, KH Ilyas, di kampung Kaum, Kelurahan Regol Wetan, yang jaraknya tak jauh dari Masjid Agung Sumedang.

Cut Nyak Dien diasingkan ke rumah itu atas permintaan Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suria Atmaja, yang tak tega menempatkan Cut Nyak Dien di penjara, seperti titah Gubernur Jenderal Belanda JBV Heuts.

Di rumah itu, Cut Nyak Dien menghabiskan waktunya dengan mengajar penduduk sekitar mengaji Alquran dan bahasa Arab.

Sehingga penduduk Sumedang lebih mengenal Cut Nyak Dien dengan nama Ibu Prabu atau kadang disebut juga ibu suci.

Pahlawan Sejati

Cut Nyak Dhien adalah pahlawan sejati, yang mewakili bangsa dan wanita Aceh.

Perjuangannya menjadi inspirasi bagi wanita dunia bahwa wanita bukan hanya mengurus rumah tangga tetapi juga mengurus marwah bangsa dan agama.

Wajar saja beliau mendapat gelar pahlawan nasional, yang ditandai dengan keluarnya Keppres No.106 Tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Tjoet Njak Dhien sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

Di balik itu masih banyak gelar yang dapat diberikan kepada Super Women tersebut.

Cut Nyak Dhien menjadi bukti kehebatan wanita lintas sejarah, kiprahnya mendahului sejarah wanita dunia.

Tidak berlebihan kalau dikatakan, apa saja obsesi wanita modern telah dilakoni lebih dahulu oleh wanita Aceh, khususnya Cut Nyak Dhien.

Maka, hari ini selayaknyalah kita mengenang kepergian sang ulama, pejuang, dan pahlawan perempuan kebanggan Aceh dan Indonesia, serta dunia ini.

Meski tak ada tanda-tanda acara khusus yang digelar oleh pemerintah, paling tidak kita kirimkan doa secara masing bermasing kepada Cut Nyak Dhien, semoga Allah meluaskan kuburan beliau dan menempatkannya dalam Surga yang tinggi.

Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha.

* PENULIS Mulyadi Nurdin adalah Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat pada IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.