Mengenang Satu Tahun Jatuhnya Lion Air JT 610

0
347

Kasadar.coml Hari ini satu tahun yang lalu, pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di perairan Karawang pada 29 Oktober 2018.

Sebanyak 189 orang yang terdiri dari 179 penumpang dewasa, 1 penumpang anak, 2 bayi, 2 pilot, 5 kru dinyatakan meninggal dunia.

Kronologi

Pesawat Lion Air JT-610 lepas landas pada pukul 06.20 WIB dari Bandara Soekarno Hatta dengan rute Bandara Depati Amir di Pangkal Pinang, Bangka Belitung.

Pesawat dijadwalkan akan tiba di tujuan sekitar pukul 07.20 WIB.

Namun, 13 menit setelah mengudara, pesawat jatuh pada pukul 06.33 WIB di koordinat S 5’49.052″ E 107’06.628″.

Kepala Kantor SAR Pangkal Pinang, Danang Priandoko mengatakan, pilot sempat meminta return to base (RTB) ke petugas pengawas Bandara Soekarno-Hatta.

“Sempat meminta kembali, tapi rupanya tak kunjung tiba. Ternyata memang hilang kontak dan jatuh,” kata Danang.

Muksi (40), warga Desa Tanjung Pakis, Kecamatan Pakis Jaya, Karawang mengatakan, nelayan yang melaut Senin pagi sempat mendengar bunyi seperti dentuman keras.

“Bunyi keras itu kira-kira pukul 06.30,” kata Muksi, dikutip dari pemberitaan Harian Kompas, 30 Oktober 2018.

Sempat Bermasalah

Sehari sebelumnya, Minggu, sistem operasi pesawat tersebut bermasalah. Namun, pihak maskapai menegaskan bahwa masalah tersebut telah dibenahi sebelum pesawat kembali beroperasi.

“Masalah teknis pada hari sebelumnya bukan masalah yang berat karena dapat ditangani dengan cepat,” kata CEO Lion Group, Edward Sirait.

Meski tak merinci, Edward mengatakan masalah teknis dialami pesawat jenis Boeing 737 MAX 8 dalam penerbangan rute Denpasar-Jakarta.

Kerusakan itu ditemukan kurang dari 10 jam sebelum penerbangan pesawat yang sama.

Sesampainya di Jakarta, menurut Edward teknisi Lion Air telah memperbaiki masalah mesin sesuai prosedur yang ditentukan produsen Boeing.

Sementara itu, Corporate Communications Stratefic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro menegaskan bahwa pesawat layak beroperasi dan merupakan pesawat baru.

“Pesawat dengan registrasi PK-LQP jenis Boeing 737 MAX 8 ini buatan 2018 dan baru dioperasikan Lion Air sejak 15 Agustus 2018. Pesawat dinyatakan laik operasi,” kata Danang, dikutip dari Kompas.com (29/10/2018).

Menurutnya, Kapten atau pilot dalam penerbangan ini sudah memiliki pengalaman lebih dari 6 ribu jam terbang dan kopilotnya memiliki pengalaman lebih dari 5 ribu jam terbang.

Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengatakan, pesawat tersebut belum lama mengudara.

“Itu masih baru Agustus, September, Oktober. Baru dua bulan mengudara,” ujar Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, dikutip dari pemberitaan Kompas.com (29/10/2019).

Menurutnya, pesawat JT 610 milik maskapai Lion Air memiliki kurang lebih 800 jam terbang.

Hasil Investigasi

KNKT Kementerian Perhubungan telah merilis laporang akhir investigasi kecelakaan pesawat B737 MAX8 Lion Air penerbangan JT 610, Jumat (25/10/2019) lalu.

Dikutip dari pemberitaan Kompas.com (25/10/2019), KNKT menyimpulkan ada sembilan faktor yang berkontribusi pada kecelakaan tersebut.

Secara garis besar adalah gabungan antara faktor mekanik, desain pesawat, dan kurangnya dokumentasi tentang sistem pesawat.

Selain itu, faktor lain yang berkontribusi adalah kurangnya komunikasi dan kontrol manual antara pilot dan kopilot beserta distraksi dalam kokpit.

Berdasarkan bukti rekaman data dan percakapan selama penerbangan, KNKT menyimpulkan bahwa kopilot tidak familiar dengan prosedur, meski ditunjukkan cara mengatasi pesawat saat training.

Saat B737 MAX 8 mengalami kendala pembacaan kecepatan di udara setelah take off, kapten pilot harus meminta kopilot dua kali untuk melakukan checklist.

Butuh waktu empat menit untuk mencari prosuder yang dibutuhkan dalam buku manual pesawat.

Selain itu, faktor teknis yang terungkap adalah sensor penting yang salah dikalibrasi oleh bengkel pesawat di Florida.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here