Banda Aceh, Kasadar.com | Rumah Cut Nyak Dhien atau Museum Rumah Cut Nyak Dhien merupakan salah satu destinasi wisata yang terdapat di Aceh. Bukan hanya wisata namun rumah ini merupakan salah satu tempat edukasi sejarah Bangsa Indonesia era Kolonialisme Belanda dulu.

Rumah  Rumah Cut Nyak Dhien ini terletak di Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, atau sekitar 10 Kilometer jika ditempuh dari Banda Aceh. Posisi rumah ini berada dipinggir jalan raya sehingga memudahkan para pengunjung untuk menemukannya.

Rumah Cut Nyak Dhien yang biasa dikunjungi ini bukanlah bentuk dari rumah asli Cut Nyak Dhien, melainkan ini merupakan bentuk replica lantaran rumah yang asli dibakar habis oleh Belanda pada tahun 1896. Rumah tersebut dibangun kembali dan dijadikan Museum pada tahun 1987 yang kemudian diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Fuad Hasan.

Museum Rumah Cut Nyak Dhien ini berbentuk rumah panggung dengan konstruksi kayu dan atap yang terbuat dari rumbia, seperti umumnya rumah adat aceh. Rumah yang kini menjadi Museum tersebut dibangun dengan ukuran 25 meter x 17 meter dan didominasi dengan warna hitam yang memiliki filosofi tersendiri.

Saat berkunjung ke Museum Rumah Cut Nyak Dhien pengunjung dapat menyimak silsilah keturunan Cut Nyak Dhien serta foto-foto yang menggambarkan perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Terdapat juga kursi-kursi dan meja replika tempat para tokoh pejuang bermusyawarah dan berunding mengenai siasat perang dan strategi berperang. Selain itu, terdapat juga senjata yang dipajang seperti rencong dan parang.

Museum Rumah Cut Nyak Dhien dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08.30 WIB-12.30 WIB dan 14.00 WIB-17.00 WIB. Pengunjung tidak dikenakan biaya saat memasuki Museum ini hanya diminta untuk menyumbang seikhlasnya untuk perawatan museum. Namun itu berlaku saat sebelum Covid-19. Selama masa Covid-19 Museum ini berhenti menerima pengunjung untuk sementara waktu oleh Pemerintah Aceh. “untuk sementara museum berhenti menerima kunjungan karena ada aturan dari pemerintah, dan akan dibuka kembali secepatnya begitu keluar izin dari pemerintah” kata penjaga Museum.

Kunjungan wisata bersejarah oleh Mahasiswi KKN Reg DR 75 UIN Walisongo Semarang ini dilakukan untuk mengingat kembali  sejarah pahlawan asal Aceh yaitu Cut Nyak Dhien. Seorang pejuang wanita berhati baja yang pendiriannya teguh serta gagah berani dalam memimpin pasukan melawan Belanda. Kunjungan dilakukan dengan tetap menjalankan protocol kesehatan yaitu dengan menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan atau memakai handsanitizer.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here