Kasadar.com | Salah satu hal yang terkadang mengotori hati dan pikiran kita adalah berita-berita yang belum tentu benar. Berita itu kemudian kita percayai dan sebarkan pada orang lain.

Kalau untuk diri sendiri, itu [mempercaya hoaks] masih mending. Tapi, bayangkan jika berita tidak baik itu kita terima, kita sebarkan, dan kita kembangkan. Yang seperti itu biasa disebut hoaks.

Agama dan nalar kita jelas melarang menyebarkan hoaks. Manusia memiliki lemari hati dan pikiran, sungguh sayang kalau yang kita simpan adalah sampah atau berita-berita yang tidak baik. Akan lebih jelek lagi jika kita terima, kemudian kita terus. Itu akan merugikan diri sendiri dan juga orang lain.

Hoaks itu ibarat virus. Seperti virus corona saat ini, perkembangannya cepat sekali.

Alquran surat Al Hujurat ayat 6 berbicara soal bahaya dari berita-berita tidak benar.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

Artinya:
“Wahai orang-orang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka teliti lah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Nah, ini [surat Al Hujurat ayat 6] sasarannya adalah orang-orang yang beriman. Sehingga saya sangat sedih jika di antara orang beriman saling mencaci maki tanpa tabayun, tanpa verifikasi. Mestinya telpon, apa benar berita ini itu.

Bagaimana etika karakter kalau sesama orang beragama saja seperti itu? Dan sangat disayangkan sekali karena kita mudah memberikan judgement pada orang. Itu sangat terkutuk dalam agama.

Semoga ini bisa menjadi renungan.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here