Kasadar.com, Jantho.| Aceh akhir-akhir ini Aceh santer diperbincangkan baik di daerah maupun di kancah nasional, terkait Surat Edaran (SE) nomor 450/21770, tanggal, 13 Desember 2019, tentang larangan mengadakan pengajian selain dari itiqad ahlusunnah waljamaah yang bersumber hukum mazhab Syafi’iyah.

Sebenarnya di Aceh, Muhammadiyah, Dayah, HUDA, PERTI, dan NU sudah sejak lama rukun, arif dan bijak menyikapi permasalahan khilafiyah di Aceh, kecuali riak kecil khilafiyah furu’yyah yang tidak begitu berarti, jika pun ada hanya oknum kader yang salah paham, bukan representatif dari ormas.

“Dalam sejumlah jabatan penting pada lembaga agama, ormas di atas juga duduk bersama dan sepandangan dalam menyelesaikan masalah keummatan.” Terang Tgk Muhammad Faisal anggota MPU Aceh Besar.

Kami dari aliansi ulama Aceh Besar sangat menyayangkan ada oknum dari ormas berbasis non dayah, mulai dari pengurus daerah sampai pusat merasa gerah dan memposisikan diri bagian yang ditertibkan atau merasa diri dari unsur yang dilarang sebagaimana dimaksud oleh Surat Edaran.

“Kita berharap jangan larut dan terjebak oleh orang yang hendak ditertibkan oleh Pemerintah dan MPU Aceh, yakni Salafi Wahhabi Takfiri, itu kan, bukan dari unsur dayah dan bukan ormas-ormas besar di Aceh dan Nusantara.
Dan anehnya, mereka Salafi Wahhabi duduk manis tidak angkat bicara, atau bisa jadi aspirasinya sudah diwakilkan oleh oknum tokoh ormas yang getol bersuara selama ini.” Terang Tgk Faisal yang juga pimpinan dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee ini.

Sebenarnya, gesekan mulai terjadi pasca tsunami, dimana pemerintah Saudi Arabia disamping membawa bantuan kemuniasaan, juga membawa aliran import bernama salafi wahaby dari nejad. dan aliran ini dikenal exstrim dan militan dalam berdakwah.

“Dan pada tiga tahun terakhir ini, mereka salafi wahhabi sudah terlalu gencar dalam ekspansi dakwah di Aceh, sehingga masyarakat pun melawan. dan Pemerintah Aceh melerai semua itu dengan cara menertipkannya, itu dia pucuk pangkal duduk perkara.” akhiri Tgk Faisal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here