Oleh Dr. Murni, S.Pd,I., M.Pd, Wakil Ketua STAI Tgk. Chik Pante Kulu

Kasadar.com | Realita akhir zaman yang terjadi saat ini adalah terkikisnya nilai etika dalam berkomunikasi yang membuat miris hati. Sudah banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari seperti orang tua sering memukul anaknya gara-gara si kakak bertengkar dengan adiknya.

Sebaliknya, ada anak yang tega memukul ibunya karena kesal tidak dibelikan sepeda motor. Orang tua yang seharusnya mengasih sayangi anak, menjaga, dan mendidiknya, malah justru mempergauli, memperkosanya hingga hamil dan melahirkan.

Di sekolah, siswa melaporkan gurunya ke polisi karena tindakan sang guru yang dianggap berlebihan dan merugikan dirinya. Sang guru menganiaya siswa karena kesal dengan perbuatan siswa tersebut.

Kasus kekerasan lain ada siswa mendorong-dorong gurunya karena tidak terima HP disita saat ujian. Ada majikan yang bertindak kejam, menganiaya pembantunya karena melakukan kesalahan dalam melakukan tugasnya. Termasuk maraknya hoax di tengah masyarakat

seperti berkenaan dengan isu keagamaan. Media sosial pun dipenuhi konten berisikan ujaran kebencian mengatasnamakan agama.

Hal ini bisa melahirkan intoleransi di tengah masyarakat, serta menjadi tantangan pada keharmonisan kehidupan berbangsa. Lalu, mengapa kasus-kasus di atas terus terjadi menghiasi kehidupan umat ini?

Dari beberapa kejadian di atas, penulis mencoba menarik kesimpulan bahwa perbuatan-perbuatan yang mendasari seseorang untuk melakukan hal tersebut di atas yaitu tidak menjaga etika saat komunikasi.

Islam sebagai agama dakwah, ajaran dan tradisi Islam sarat akan nuansa-nuansa komunikasi. Alquran adalah kitab suci umat Islam merupakan wahyu (pesan komunikasi) yang vertikal dari Allah SWT kepada umat-Nya.

Demikian juga dengan hadits yang merupakan pesan-pesan yang mengolaborasi lebih rinci tentang ajaran-ajaran Alquran. Bahkan ayat Alquran yang pertama kali turun mengajarkan bagaimana pentingnya berkomunikasi (iqra’ atau membaca). Komunikasi terbagi dua, Hablun Minallah (hubungan dengan Allah) dan Hablun Minannas (hubungan dengan manusia).

Etika komunikasi dalam Islam sangat penting komitmen akhlak yang tinggi seperti yang diajarkan Alquran dan al-Hadits Nabi Muhammad SAW. Keterbukaan dan kejujuran adalah ciri khas komunikasi yang Islami.

Alquran bersifat pesan (firman) Allah SWT yang bersifat mewajibkan kepada manusia. Demikian juga Hadits Nabi merupakan kumpulan pesan (sabda) Rasulullah SAW tentang kehidupan, dalam menjabarkan berbagai pesan Allah SWT dalam al-Qur’an.

Ternyata, rambu-rambu etika berkomunikasi telah dinyatakan dalam Alquran di mana Allah SWT berfirman: “Ajaklah mereka ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik,…” (QS. An-Nahl: 125).

Diperkuat lagi dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam, ….” (HR. Muttafaqun `Alaih: Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas merupakan rujukan utama bagi seorang Muslim dalam bersikap dan membina hubungan bermasyarakat. Karenanya, hadits ini diulang-ulang, ditafakuri, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun redaksinya sangat singkat, tapi pengaruhnya sungguh luar biasa, terutama bagi terciptanya hubungan yang harmonis di dalam bermasyarakat.

Nah, bagaimana konsep etika komunikasi menurut Imam al-Ghazali dua kitabnya Ihya’ `Ulumuddin dan Bidayatul Hidayah. 1) Qaulan Kariman. Perkataan yang mulia. Selain dengan perkataan yang mulia juga diimbangi dengan perbuatan dan tingkah laku. Bagaimana beretika kepada orang tua, sekalipun orang tuanya bukan orang Islam berbakti kepada orang tua itu wajib, baik kedua orang tuanya masih hidup maupun sudah meninggal.

2). Qaulan Sadida. Berkata benar/berkata jujur. Etika berkomunikasi kepada sesama orang Muslim dan kepada teman, kenalan-kenalan dan orang yang tidak dikenal, dengan perkataan dan perbuatan yang baik, tidak dianjurkan untuk berdusta atau berbohong demi mendapatkan sesuatu, karena dengan perkataan yang benar akan membuat orang dapat mempercayainya dan meyakinkan. Dengan demikian perkataan yang benar dapat memengaruhi komunikasi kepada orang Muslim, teman dan kenalan-kenalan, apabila perkataan itu mengandung dusta atau kebohongan, maka orang Muslim atau teman dan kenalan-kenalan bisa tidak percaya dengan apa yang kita bicarakan dan akan mendustakannya.

Seperti sabda Nabi SAW, “Yang disebut dengan Muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah.” (HR. Muttafaqun `Alaih). 3) Qaulan Ma’rufa. Mengandung pengertian perkataan atau ungkapan yang baik dan pantas. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang artinya: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 263).

Dengan perkataan yang baik kepada tamu, tetangga, kerabat dan family, dan sesama Muslim, akan membuat tali persaudaraan semakinkuat, tanpa ada seorangpun yang tersinggung dengan perkataan yang diucapkan. Komunikasi yang terjalin akan berjalan dengan baik dan tidak menyalahi agama dan sunnah. Dengan demikian perkataan yang baik dan pantas menjadi landasan dalam etika berkomunikasi, sehingga komunikasi yang berjalan bisa berjalan dengan efektif dan tidak menyinggung komunikan. Serta mempererat tali silaturrahmi antara umat Islam.

4). Qaulan Baligha. Perkataan yang fasih. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam al-Ghazali tentang bagaimana etika komunikasi guru kepada murid dan etika kepada sesama orang Muslim.

Dengan demikian perkataan yang fasih atau sampai dapat membuat murid paham dan melaksanakan apa yang telah dikatakan gurunya. Contohnya dapat dilihat ketika guru menyampaikan ilmunya tentang amar ma`ruf dan nahi munkar, jika perkataan yang fasih atau sampai dapat dipahami oleh murid tentu murid akan melaksanakan sesuai apa yang dikatakan oleh gurunya.

5). Qaulan Layyina. Perkataan yang lemah lembut. Imam al-Ghazalitelah menjelaskan bahwa jika perkataan yang lemah lembut tidak diterapkan dalam hubungan antara guru dan murid, orang tua dan anak, da`i dan mad`u, maka komunikasi yang berjalan akan bertentangan dengan ajaran agama dan dapat menimbulkan hubungan yang renggang antara komunikator dan komunikan yang diimbangi dengan perbuatan dan tingkah laku yang sesuai pula.

6). Qaulan Maisura. Perkataan yang mudah atau pantas. Sebagaimana firman Allah yang artinya, “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.”

(QS. Al-Isra`: 28). Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa jika seorang guru atau dai menyampaikan ilmu pelajaran kepada murid atau mad`u dengan mudah dimengerti dan melegakan perasaan, maka murid atau mad`u dapat memahami setiap perkataan yang disampaikan oleh guru atau da`i dalam menjelaskan pelajaran. Karena dengan perkataan yang ringan dan mudah akan membuat cepat paham tanpa harus terlalu dalam memaknai setiap perkataannya.

Dengan demikian murid tidak salah dalam mengartikan dan memahami penjelasan guru tanpa berbelit-belit menjelaskan setiap pelajaran yang dipelajari.

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here