Kasadar.com | Indonesia akhirnya memasuki jurang resesi ekonomi setelah mengalami kontraksi pada kuartal III 2020 sebesar minus 3,49 persen. Sebelumnya, ekonomi sudah minus 5,32 persen di kuartal II 2020 karena pandemi covid-19.

Tentunya, kondisi resesi ekonomi harus disikapi oleh semua masyarakat, tak terkecuali kaum milenial yang berada di usia produktif 25 tahun-40 tahun.

Perencana keuangan Finansia Consulting Eko Endarto mengatakan kaum milenial hendaknya mulai berpikir tentang risiko keuangan di tengah krisis ekonomi ini. Umumnya, para millenial ini memang telah mengantongi penghasilan. Namun, Eko menekankan resesi ekonomi menimbulkan sebuah ketidakpastian mengenai kondisi perekonomian mendatang.

“Harus diingat bahwa kita tidak tahu sampai kapan penghasilan akan stabil, karena semua sektor terdampak. Jadi yang dipikirkan adalah risikonya, bisa jadi sekarang nyaman-nyaman saja tapi 2-3 bulan hilang penghasilannya karena PHK, potong gaji, atau dirumahkan,” ujarnya.

Namun, generasi milenial tak perlu panik menghadapi resesi ekonomi ini melainkan mempersiapkan dan memperbaiki pola pengaturan keuangannya. Berikut sejumlah langkah pengaturan keuangan yang bisa dipertimbangkan milenial di tengah resesi ekonomi:

  1. Dana cadangan

Eko mengatakan pengaturan keuangan paling utama bagi milenial adalah mempersiapkan dana cadangan, atau sejumlah uang yang disiapkan untuk mengantisipasi apabila terjadi masalah dengan sumber penghasilan.

Eko menuturkan besaran rata-rata dana cadangan sebesar 3-6 bulan pengeluaran bulanan. Bagi milenial yang belum memiliki dana cadangan sama sekali, Eko sangat menganjurkan mereka untuk mulai mempersiapkannya. Sebaliknya, bagi yang sudah memiliki dana cadangan tidak ada salahnya untuk memperbesar jumlahnya.

“Kenapa? Karena hal itu mengantisipasi kalau terjadi masalah pada penghasilan dia, jangan sampai investasi atau tabungan dikorbankan, jangan sampai melepas investasi padahal belum membuahkan hasil, artinya dia akan merugi,” jelasnya.

 

  1. Kencangkan ikat pinggang

Tak dapat dipungkiri, kaum milenial identik dengan pengeluaran konsumtif, khususnya bagi milenial yang sudah memiliki penghasilan pribadi namun belum berkeluarga. Namun, Eko menyarankan kaum millenial ini untuk mulai membedakan kebutuhan dan keinginan ketika hendak melakukan konsumsi di tengah resesi ekonomi.

“Harus kurangi hal-hal yang tidak perlu, apalagi saat ini ketika tidak punya dana cadangan, maka prioritaskan dulu dana cadangan, sehingga hal yang tidak urgent jangan jalankan dulu untuk tutupi dana cadangan,” ucapnya.

Ia menyarankan kaum milenial terlebih dulu menyisihkan penghasilannya untuk membayar kewajiban sebesar 30 persen. Lalu, mempersiapkan dana cadangan, tabungan, maupun kebutuhan dana proteksi sebesar 20 persen dari penghasilan.

“Sisanya baru bisa untuk konsumsi sehari-hari, jadi yang punya utang bayar dulu, lalu dana cadangan, tabungan, proteksi dan asuransi diselesaikan dulu, sisanya baru konsumsi,” tuturnya.

  1. Jangan tambah utang

Eko mewanti-wanti kaum milenial tidak menambah utang atau cicilan apalagi yang bersifat konsumtif pada saat resesi ekonomi. Alasannya, tambahan utang ini justru bisa menimbulkan masalah ke depannya jika tidak bisa melunasi.

Ia kembali menekankan jika resesi ekonomi ini dipenuhi ketidakpastian. Jadi, belum tentu penghasilan yang milenial sekarang masih bisa bertahan dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan, karena resesi ekonomi ini berdampak bagi semua sektor.

Sepakat, Perencana keuangan dari One Schildt Consulting Budi Raharjo juga menekankan kaum milenial untuk mengurangi dan tidak menambah utang. Menurutnya, tidak ada yang bisa memprediksi kapan resesi ekonomi akan berakhir karena ini sangat bergantung dari perkembangan pandemi covid-19.

“Kita belum tahu efek resesi apakah sudah kemarin, lalu sekarang sudah menuju perbaikan dan normal, atau apakah ke depan akan menjadi lebih parah dan baru mulai? Kita tidak tahu, jadi lebih baik kita siap-siap dari sekarang,” tuturnya.

 

  1. Siapkan keranjang

Budi mengajarkan untuk mempermudah milenial mengatur keuangan pada masa resesi ekonomi adalah dengan mempersiapkan keranjang pengeluaran. Untuk saat ini, tentu prioritas keranjang pengeluaran tersebut adalah dana darurat, proteksi, investasi, terakhir baru keranjang konsumsi.

“Jangan terlalu konsumtif, kita sisihkan sebagian penghasilan kita dalam beberapa keranjang, untuk dana darurat, proteksi dan asuransi, investasi masa depan, itu yang sekarang harus menjadi pengingat,” katanya.

Namun, bukan berarti kaum milenial dilarang melakukan konsumsi di luar kebutuhan primer. Budi menuturkan pengeluaran yang sifatnya konsumtif masih bisa dilakukan, asal tetap memperhatikan kesehatan keuangannya.

 

  1. Sarana pembelajaran

Baik Eko dan Budi sepakat resesi ekonomi ini menjadi pembelajaran bagi semua lapisan masyarakat termasuk millnial. Pelajaran dan hikmah paling utama dari resesi ekonomi dan pandemi covid-19 adalah tidak ada sesuatu yang pasti, sehingga harus mulai berpikir mengenai antisipasi, proteksi, dan investasi.

“Milenial bisa bersyukur terjadi krisis ketika mereka masih muda, masih bisa produktif, kalau PHK masih banyak perusahaan yang mencari. Tapi, coba bayangkan hal ini terjadi ketika mereka sudah masuk tahapan pensiun, ini bahaya sehingga harus diantisipasi,” tuturnya.

Sepakat, Budi menekankan pelajaran dari resesi ekonomi adalah mempersiapkan pondasi keuangan dengan baik. Jadi ketika terjadi krisis, generasi milenial masih memiliki pegangan kuat.

“Semoga kita bisa ambil hikmah dan pelajaran, saat kita sedang lapang, bukannya tidak boleh menikmati, tapi kita harus mengalokasikan dan membuat pondasi keuangan kita tetap sehat dan kuat,” tuturnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here