Jakarta, Kasadar.com | Pesatnya perkembangan teknologi dewasa ini telah menunjukkan bahwa dunia telah memasuki era baru yang sering dikenal dengan era digital. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan situasi perubahan dari teknologi mekanik dan elektronik analog ke teknologi digital.

Hal paling nyata yang dapat dirasakan, yaitu pesatnya arus pertukaran informasi. Sejak kehadiran internet, setiap orang dapat mengakses, memberikan, menyebarkan, berkomunikasi, dan melakukan berbagai aktivitas secara online. Berbagai media dapat digunakan secara bebas dan luas. Didukung lagi dengan akses terhadap informasi yang tidak terbatas.

Dengan segala akses kemudahan yang diberikan, perubahan ini telah memengaruhi pola kehidupan anak, Bunda. Tidak bisa dimungkiri, anak-anak di zaman sekarang sangat bergantung pada perangkat digital. Tidak heran juga jika anak-anak saat ini disebut sebagai generasi digital.

Seorang penulis pendidikan bernama Marc Prensky menyebut mereka ‘digital native’, yang menggambarkan perilaku ketergantungan terhadap digital (internet) yang sangat tinggi. Dalam artikelnya berjudul ‘Digital Natives, Digital Immigrants’, yang terbit pada tahun 2001 dikatakan bahwa teknologi telah mengubah cara anak untuk berpikir dan memproses informasi, sehingga sulit bagi anak untuk unggul secara akademis menggunakan metode pengajaran yang sudah usang.

Seiring kemajuan teknologi dan gencarnya penetrasi smartphone yang begitu besar, membuat anak-anak masa kini semakin ‘digital native’.

“Hal yang lumrah jika Anda melihat anak di bawah umur 3 tahun sudah mampu mengoperasikan perangkat smartphone,” tulis Prensky.

Dalam kaitannya dengan pendidikan anak, peran orang tua sangat penting dalam mengawasi perilaku buah hati saat menggunakan perangkat digital. Mengingat kemudahan informasi yang dapat diakses tanpa batas, hal ini sejatinya sangat baik, namun juga terdapat ancaman yang bisa saja menjadi dampak buruk pada perilaku anak.

Misalnya, fenomena cyberbullying yang bisa berdampak buruk pada mental dan perilaku anak. Dikutip dari laman The Healthsite, kebanyakan dari remaja menjadi korban cyberbullying.

Cyberbullying adalah tindakan perundungan yang terjadi di perangkat digital. Seorang cyberbully dapat menggunakan teknologi untuk melecehkan dan menjadikan seseorang korban. Orang yang menderita pelecehan semacam ini akan cenderung menjadi depresi, cemas, dan memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Selain itu, berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Youth, penggunaan media sosial dapat memengaruhi pola tidur anak. Mereka merasakan dorongan untuk bangun di tengah malam demi mengetahui apa yang diposting oleh teman-temannya. Hal tersebut justru menyebabkan anak menjadi kurang tidur, sehingga kondisi ini bisa saja memengaruhi suasana hati mereka. Masalah kurang tidur juga berdampak pada masalah kesehatan lain, seperti depresi, obesitas, dan lain sebagainya.

Keterlibatan keluarga dalam pendidikan anak merupakan suatu keharusan. Orang tua merupakan pendidik pertama bagi tumbuh kembang anak, Bunda. Bentuk pendidikan dalam keluarga bersifat pengasuhan.

Pengasuhan sangat erat kaitannya dengan kemampuan orang tua memberikan perhatian, waktu dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, sosial, emosional bahkan spiritual anak. Ini adalah sebuah proses yang merujuk pada serangkaian aksi, dan interaksi orang tua untuk mendukung perkembangan anak.

Mengutip dari laman Parenting Firstcry, ada beberapa tips yang bisa Bunda terapkan dalam mendidik anak di era digital dewasa ini sekaligus menciptakan interaksi antara orang tua dan buah hati, yang meliputi:

1. Batasi waktu penggunaan gadget
Berbagai aktivitas akan berkontribusi terhadap perkembangan anak secara keseluruhan. Pastikan untuk menetapkan batasan yang wajar untuk waktu penggunaan gadget bagi anak-anak di rumah. Hal ini dilakukan demi mendorong anak agar mengisi kegiatannya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat, seperti bermain, membaca buku, bahkan menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah.

2. Jadilah panutan yang baik
Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang diajarkan kepada mereka. Orang tua dianggap sebagai guru pertama bagi anak-anak, jadi pastikan untuk menjadi panutan yang baik bagi mereka. Orang tua juga sebaiknya membatasi penggunaan media sosial yang merupakan cara yang sangat efektif ketika ingin memberikan contoh kepada mereka.

3. Jangan pernah menggunakan gadget sebagai alat penenang emosi anak
Belakangan, Bunda mungkin sering menyaksikan para orang tua menggunakan teknologi sebagai penenang emosi bagi anak-anaknya. Dalam kasus anak membuat ulah atau di luar kendali, yang tak sedikit membuat orang tua menggunakan gadget seperti halnya video game sebagai alat untuk menenangkan mereka. Hal ini justru akan menjadi masalah dalam jangka panjang.

4. Menjembatani kesenjangan komunikasi
Komunikasi tatap muka secara teratur dengan anak adalah cara yang bagus untuk tetap terhubung dengan mereka, dan membantu orang tua untuk menjembatani kesenjangan dalam berkomunikasi. Kegiatan komunikasi tatap muka sangat penting dalam keterampilan pengembangan bahasa mereka.

5. Ciptakan zona bebas teknologi di rumah
Zona tanpa layar di rumah, terutama selama waktu makan, pertemuan keluarga, atau tempat tertentu di rumah akan menjadi praktik yang sangat baik dalam membatasi hal tersebut. Cara terbaik untuk memulai praktik ini adalah dengan mematikan televisi saat jam makan atau diskusi keluarga.

Hal tersebut membantu dalam membatasi gangguan yang dimiliki anak-anak saat makan. Tak sedikit orang tua yang telah memperhatikan bahwa mereka bahkan tidak ingat apa yang telah dimakan karena konsentrasinya tertuju pada televisi atau telpon selular (ponsel) mereka.

6. Orang tua harus bekerja sama dengan guru di sekolah
Orang tua dan guru harus bekerja sama sebagai komunitas untuk membesarkan warga digital yang bertanggung jawab. Banyak sekolah telah beralih ke pembelajaran digital untuk mendidik siswa.

Nah, sebagai orang tua, sudah sepatutnya untuk mendukung upaya sekolah dan meningkatkan penggunaan teknologi yang tepat di rumah dengan bimbingan dan pengawasan yang tepat.

Semoga informasi membantu Bunda dan Ayah dalam mendidik anak di era digital ya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here