Transportasi Daring vs Abang Becak Kutaraja

130

Kasadar.com, Banda Aceh|Ekspansi moda transportasi dalam jaringan (daring) ke Kota-kota di luar Sumatera memang sudah diprediksikan mengakibatkan reaksi massa dari penyedia jasa transportasi konvensional seperti yang telah terjadi di Pulau Jawa. Respons masyarakat terhadap arus pembaruan ini sangatlah positif dengan banyaknya pengguna sepeda motor dari berbagai kalangan yang mendaftar sebagai mitra perusahaan dari ibukota. Beberapa bulan sebelumnya warga kota Banda Aceh mulai mengenal moda transportasi daring serupa yang mengusung kearifan lokal dan merangkul pelaku usaha sewa becak.

Pada hari Senin tanggal 16 Oktober, sekumpulan orang yang tergabung dalam Masyarakat Transportasi Aceh menggelar aksi damai di Kantor Gubernur Aceh dengan tuntutan penertiban penyedia layanan transportasi online dengan dalih merugikan dan melemahkan ekonomi rakyat kecil. Parahnya, mahasiswa sebagai insan akademis pun ikut ikut demonstrasi tanpa kajian isu terlebih dahulu.

Berkaca dari daerah lain yang juga mendapat kesempatan merasakan modernisasi transportasi, warga Banda Aceh patut bersyukur dengan kedatangan angin segar baru dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat kecil. Banyak tenaga kerja lokal terserap dalam setiap peluncuran layanan di daerah daerah baru.

Pemahaman modernisasi berefek samping pada pembunuhan ekonomi rakyat kecil merupakan kesesatan berpikir terbesar dalam sejarah manusia. Sejatinya perubahan sosial tidak dapat dielak maupun ditolak, mau tidak mau perubahan tersebut harus diterima. Paradigma tersebut hanya pantas disandang oleh masyarakat dengan etos kerja yang rendah.

Sebagai umat Islam dan orang Aceh, sejak kecil kita sudah didoktrin bahwa rezeki itu sudah dijamin oleh Allah(QS : Hud : 6). Sehingga kekhawatiran akan berkurangnya rezeki dapat dimaknakan sebagai hinaan terhadap Tuhan yang Maha Kaya.

Saran Alternatif

Ada baiknya Penyedia layanan transportasi konvensional dapat menerima arus Perubahan ini dengan lapang dada. Terlebih, konsumen mulai dipadati oleh generasi millenial yang tidak dapat dipisahkan dari gawai dalam interaksi sosial. Meskipun terdengar melelahkan dan memakan waktu yang lama, proses modernisasi ini wajib hukumnya untuk dilaksanakan demi terwujudnya masyarakat gemilang.

Ketika perusahaan dari Jakarta melakukan transmigrasi ke daerah-daerah lazimnya menganut nilai-nilai kearifan lokal dalam setiap produk yang ditawarkan. Selain itu, inisiatif untuk melakukan sosialisasi dengan pelaku Usaha transportasi tradisional harus mulai digalakkan dan tentu saja merger dengan perusahaan lokal sejenis merupakan langkah paling tepat untuk saat ini.

Bahwasanya dalam perspektif secara netral kita menilai tidak ada yang patut disalahkan, semua ini terjadi murni faktor kecemburuan sosial. Karena pada hakikatnya Go-Jek, Ho – Jak, Grab, dan sebagainya hanyalah perusahaan terdaftar penyedia aplikasi bagi para mitra yang berasal dari kalangan bawah.

Mahasiswa sebagai penggemar diskusi seharusnya menjadi penyambung lidah rakyat seharusnya memfasilitasi kedua belah pihak dalam suatu FGD(Focus Group Discussion).

*Penulis adalah Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala Periode 2016/2017.

SUMBERAceh Trend
BAGIKAN

KOMENTAR FACEBOOK

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.